Kemarau, Panen Lebih Mudah Kualitas Gabah Terjaga

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Masa panen padi musim tanam pertama (MT1) di Lampung Selatan sudah berlangsung sejak April. Panen masih berlangsung hingga awal Mei ini.

Masa panen yang bertepatan dengan musim kemarau, cukup menguntungkan petani. Mujiono, salah satu petani di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan mengungkapkan, padi miliknya sudah dipanen sebagian.

Mujiono, salah satu petani di desa Gandri Kecamatan Penengahan Lampung Selatan mempersiapkan sumur bor untuk pengairan selama kemarau – Foto Henk Widi

Padi jenis Muncul Cilamaya, dipanen saat kemarau sehingga memudahkan proses memanennya. Kondisi berbeda jika panen dilakukan saat musim penghujan. Sawah becek karena luapan air sungai Pergiwo. Selain itu, panen pada musim hujan membuat kualitas Gabah Kering Panen (GKP) menurun, karena kadar air yang tinggi. Panen yang berbarengan dengan Ramadan, dipastikan Mujiono lebih menguntungkan bagi petani.

“Saat musim penghujan lahan sawah menjadi lembek dan proses pemanenan lebih sulit, terutama pada bagian sawah yang kerap tergenang air butuh waktu lebih lama karena pemanenan secara manual,” terang Mujiono kepada Cendana News, Jumat (10/5/2019).

Setelah panen padi dijemur untuk mendapatkan Gabah Kering Giling (GKG). Penjemuran di musim kemarau dapat kering sempurna, sehingga menghasilkan beras berwarna putih dan tidak mudah pecah. Sementara, selama kemarau saat musim tanam kedua (MT2) Mujiono masih bisa menanam padi.

Sumur bor bantuan pemerintah, masih bisa mengairi sawah selama musim gadu. Petani yang enggan menanam padi, bisa menanam palawija atau sayur dengan yang memiliki kebutuhan air lebih sedikit. Panen saat kemarau juga menguntungkan bagi Suprapto. Petani warga Penengahan tersebut, memanen padi berbarengan Ramadan. “Saat siang hari umumnya panas, jadi digunakan untuk istirahat, proses lembur pada malam hari sudah umum dilakukan petani Lamsel apalagi selama bulan Ramadan,” tandas Suprapto.

Parjiah,salah satu petani melakukan proses pemanenan dengan peneduh dari pelepah daun kelapa akibat kondisi cuaca panas – Foto Henk Widi

Parjiah, petani lain yang juga warga Penengahan mengaku, masih menjalankan puasa meski harus bekerja memanen padi. Meski cuaca cukup panas, Dia menyiasati dengan memanen di pagi hari. Saat kondisi cuaca panas membuat peneduh menggunakan pelepah kelapa.

Pemanenan di musim kemarau lebih menguntungkan dibandingkan panen di musim penghujan. “Pengaruh bagi fisik petani saat panas mempercepat dehidrasi, namun saat musim penghujan merusak kualitas gabah,” ungkap Parjiah.

Gabah yang dihasilkan memiliki kadar air yang rendah, membuat kualitas gabah menjadi lebih baik. Rencananya, gabah hasil panen akan dipergunakan untuk stok kebutuhan Ramadan dan Idul Fitri. Ia bahkan tidak berniat menjual gabah, meski harga gabah saat ini mencapai Rp480.000 perkuintal.

Musim kemarau dengan panas merata sejak pagi hingga sore, membantu proses pascapanen. Lisdaryanti, petani yang memanen satu ton padi Ciherang menyebut, penjemuran padi menjadi lebih cepat. Panen sebelumnya, Dia butuh waktu satu bulan untuk mengeringkan gabah. Kini, satu ton gabah sudah terjemur setengah ton dan kering selama empat hari. “Musim kemarau saat panen mempercepat proses penjemuran sekaligus menjaga kualitas gabah,” pungkasnya.

Lihat juga...