Putri Cendana Kembalikan Kenangan Masyarakat NTT pada Pak Harto
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
ATAMBUA — Kehadiran dua putri Cendana memantik hati masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT). Kerinduan mereka pada sosok Presiden kedua RI, Jenderal Besar HM Soeharto dan Ibu Tien Soeharto, dirasa terobati.

Setibanya di rumah sakit milik Yayasan Maria Virgo, dua putri Cendana ini sambut antusias pengelola RS dan para suster. Tutut Soeharto dan Mamiek Soeharto diberikan kenangan kain tenun khas NTT berwarna cerah.
Kain tenun itu pun dikenakan di pundak Tutut Soeharto dan Mamiek Soeharto. Adapun Danty Rukmana, melingkarkan kain itu di lehernya.
Dengan senyum ramahnya, Tutut Soeharto menyapa pengelola RS, para suster dan pasien katarak yang sudah menunggunya. “Apa kabar semuanya. Saya senang bisa hadir di sini dalam kegiatan bakti sosial. Semoga bapak dan ibu lekas sehat ya,” kata putri sulung Presiden Soeharto.
Ketua Yayasan Maria Virgo RS Katolik Marianum Haliluluk, RS Yohana Maria, mewakili masyarakat NTT mengucapkan terima kasih atas kehadiran Tutut Soeharto dan Mamiek Soeharto ke rumah sakit ini.
“Selamat datang Ibu Tutut, Pembina Yayasan Dharmais, dan Ibu Mamiek. Semoga tindakan nyata pelayanan kasih dalam lingkaran keluarga besar ini tetap terjalin,” kata Yohana dalam sambutannya.
Yohana sangat bersyukur dan berterima kasih atas bantuan pengobatan yang diberikan oleh Yayasan Dharmais. Menurutnya, kegiatan bakti sosial ini mengingatkan akan kebaikan dan kebesaran Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto yang sangat perduli dengan rakyat.

“Terima kasih dengan kehadiran Ibu Tutut dan Ibu Mamiek, kami mengenang Pak Harto dan Ibu Tien. Tentu kami akan mendoakan Beliau semoga ditempatkan di surga,” ujarnya.
Dia mengatakan, Tutut Soeharto bersama rombongan datang ke RS ini dengan batin yang bersumber pada rasa cinta. Kelihatan terputus tapi ternyata sangat terasa kini terjalin harmonisasi.
Rasa cinta kepada kehidupan sesama ternyata kata dia, diteruskan dan tetap hidup diwujud nyatakan dalam tindakan dalam satu suara. “Mereka senang karena sudah bisa melihat kembali. Mereka juga senang bisa melihat Ibu Tutut Soeharto,” ujarnya.
Yohana berharap semoga kerjasama yang dirajut kembali dalam pelayanan kasih diperkuat ikatannya. Tetap berkelanjutan bagi sesama manusia dalan lingkaran keluarga besar demi kebahagian sesama manusia.
Operasi katarak yang digelar Yayasan Dharmais kerjasama dengan Perhimpunan Dokter Muda Indonesia (Permadi) disambut antusias masyarakat NTT.
Tercatat 100 lebih peserta yang mengikuti operasi katarak di RS Katolik Mariamun Haliluluk ini.” Saya mewakili pasien, mengucapkan terima kasih pada Ibu Tutut. Puji Tuhan, kami bisa bertemu dengan Ibu yang energik sangat luar biasa,” kata Fernandes, tokoh masyarakat.
Dia mengatakan, katarak merupakan penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat usia lanjut di wilayah NTT. Demi kesembuhan matanya, mereka rela datang jauh-jauh dari berbagai dusun. Terkadang mereka harus menginap agar dapat pengobatan secara gratis diberikan yayasan Dharmais.
“Pasien yang rumahnya jauh nginap di RS ini demi pengobatan gratis. Sayangnya, RS ini kekurangan tempat tidur,” kata Fernandes.

Ia diminta untuk operasi katarak di Kupang, dengan peralatan yang canggih. Namun ia bersama masyarakat lainnya menolak anjuran tersebut. “Kami protes karena tidak ada uang. Kami ini pensiunan yang terima gaji hanya 75 persen. Masyarakat di sini juga petani, peternak dan nelayan, yang ekonominya juga sulit,” kata Fernandes.
Sehingga akhirnya diputuskan untuk menunggu tujuh bulan lagi. “Puji Tuhan ada pengumuman operasi katarak gratis dari Yayasan Dharmais diumumkan di gereja. Kami pun mendaftar dan hari ini mata kami dioperasi. Terima kasih Ibu Tutut,” pungkasnya.