Minimalisir Bahan Kimia, Petani Lamsel Terapkan Cara Alami

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Penggunaan zat-zat kimia yang dipergunakan untuk menghindarkan tanaman padi dari serangan hama masih jamak bagi petani.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh Samijo (50) petani di Desa Sukarandek, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan (Lamsel).

Ia menyebut, sebagian besar petani masih menggunakan herbisida untuk membasmi gulma rumput, pestisida untuk membasmi hama meliputi insektisida untuk serangga, fungisida untuk jamur dan rodentisida untuk tikus.

Penggunaan zat kimia tersebut diakuinya efektif untuk meminimalisir bahkan memusnahkan hama baik berupa tumbuhan, serangga maupun organisme pengganggu tanaman (OPT) lainnya.

Meski demikian Samijo menyebut, beberapa langkah meminimalisir hama terus dilakukan dengan sejumlah alat serta bahan yang ramah lingkungan. Salah satu cara yang ditempuh secara manual disebut Samijo dilakukan dengan cara menyiangi gulma melalui proses matun.

Selain itu penggunaan alat penggaruk rumput masih dipergunakan untuk meminimalisir penggunaan zat kimia. Meski sebagian petani memilih menggunakan herbisida ia menyebut, masih mempergunakan cara tradisional dalam meminimalisir penggunaan zat kimia.

Pemungutan keong serta membuat pagar perangkap tikus atau dikenal dengan Trap Barrier System (TBS). Plastik tersebut dipasang mengelilingi tanaman padi dari usia muda hingga sepekan sebelum panen.

“Sistem yang digunakan dalam pengendalian hama pada tanaman padi memang sudah maju, namun saya masih mempergunakan sistem tradisional untuk meminimalisir penggunaan zat kimia,” terang Samijo, saat ditemui Cendana News di lahan sawah miliknya, Rabu (3/4/2019).

Penggunaan alat pagar plastik atau TBS disebut Samijo, berfungsi mencegah hama keong mas. Hama keong mas menurutnya kerap menyerang saat padi usia satu hari setelah tanam hingga belasan hari setelah tanam.

Penyebaran hama keong mas disebutnya dilakukan dengan membuat petak diisi genangan air dan diberi perangkap plastik. Cara tersebut dilakukan untuk memancing hama keong mas, sementara pada lahan yang ditanami padi dikeringkan.

Selain sebagai cara menanggulangi hama keong mas, penggunaan pagar plastik diakui Samijo juga menghindari hama tikus. Hama tikus disebutnya kerap menyerang tanaman padi menjelang padi mulai berbulir atau meratak.

Petak yang sudah ditanami padi lebih awal dengan jarak satu bulan menurutnya bisa menjadi pemancing tikus untuk tidak menyerang padi yang ditanam petani. Penggunaan pagar plastik yang diperkuat dengan ajir bambu diakuinya mencegah serangan tikus.

“Langkah mengurangi hama dilakukan dengan cara-cara yang sederhana namun bisa mengurangi penggunaan pestisida,” tegas Samijo.

Samijo juga menambahkan, pola tanam sistem jajar legowo atau pengaturan jarak tanam menjadi cara meminimalisir berkembangnya hama. Pola tanam jajar legowo tersebut diakuinya membuat ia bisa lebih mudah melakukan penyiangan gulma memakai alat yang dikenal dengan sorok.

Sorok merupakan alat terbuat dari besi yang didorong untuk membersihkan rumput di sela-sela tanaman padi. Penggunaan alat tersebut mengurangi penggunaan herbisida pada tanaman padi varietas Muncul Cilamaya yang ditanamnya.

Sistem tradisional dalam perawatan tanaman padi Muncul Cilamaya juga dilakukan oleh Nurhayati (40) petani di Desa Bandaragung, Kecamatan Sragi.

Nurhayati salah satu pemilik lahan sawah di Desa Bandaragung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

Nurhayati menyebut, ia masih menerapkan pembersihan gulma dengan mencabut gulma memakai tangan. Cara tersebut dilakukan sekaligus untuk membersihkan hama keong mas yang dikumpulkan untuk pakan ternak bebek.

Proses membersihkan rumput dengan cara manual diakuinya sangat efektif mengurangi pembelian obat kimia.

“Saya harus telaten merawat tanaman padi meski dengan alat sederhana, tetapi terhindar dari paparan zat kimia yang membahayakan kesehatan,” tegas Nurhayati.

Upaya meminimalisir penggunaan bahan kimia diakui Nurhayati juga didukung dengan masih asrinya lahan pertanian di wilayah tersebut. Tanda masih banyak muncul burung Sriti pemangsa serangga dan burung bangau.

Saat muncul hama atau konsentrasi hama pada lahan miliknya ia mengaku, kerap muncul burung bangau, burung sriti. Burung bangau atau oleh petani setempat dikenal sebagai burung kuntul, masih bersahabat dengan petani bahkan tidak pernah diusir meski berada di areal sawah.

Nurhayati menyebut, puluhan bangau hitam dan putih yang kerap masuk ke areal persawahan kerap memangsa kepiting yang kerap melubangi tanggul, keong yang menyerang padi muda.

Burung bangau menurutnya tidak merusak tanaman padi karena memangsa serangga serta hama tanaman padi. Selain meminimalisir penggunaan bahan kimia ia menyebut, petani bisa mengurangi residu bahan kimia.

Meski masih mempergunakan sejumlah pupuk kimia seperti NPK, SP36, Urea serta pupuk organik, ia menyebut, bisa mengurangi pemakaian pestisida atau bahan kimia pada tanaman padi.

Lihat juga...