Kominfo Dorong Pertumbuhan Startup Muda

Editor: Satmoko Budi Santoso

BADUNG – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bertanggung jawab untuk mendorong  startup muda terus meningkatkan kualitas dirinya.

Doddy Setiadi selaku Inspektur Jenderal Kementerian Kominfo menegaskan, di tahun 2019 ini pihaknya menyiapkan berbagai program untuk mewujudkan hal itu. Salah satunya dengan mendorong aktivitas yang berkaitan dengan digital talent scholarship sebanyak 2000 ribu orang.

“Jadi artinya kita mendidik teman-teman startup yang ada di masyarakat dengan suatu persyaratan tertentu dan seleksi, sehingga mereka  menjadi sumber daya yang siap untuk masuk di dalam dunia kerja,” ucap Doddy Setiadi saat ditemui dalam acara IAI-AFA-IAESB International Conference di Badung, Bali, Jumat (12/4/2109).

Doddy Setiadi selaku Inspektur Jenderal Kementerian Kominfo -Foto: Sultan Anshori.

Doddy Setiadi menambahkan, para digital talent scholarship nantinya akan didukung penuh oleh pemerintah. Termasuk dengan menyediakan pendanaan, dimana yang sudah dianggarkan tahun ini sebesar Rp109 miliar. Dengan begitu,  diharapkan para startup muda tersebut bisa memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi bangsa.

“Karena sejatinya saat ini dunia kerja sudah serba digital. Nah itulah yang coba kami siapkan dari sekarang,” imbuh Doddy Setiadi.

Masih menurut Doddy, pertumbuhan teknologi dan informasi juga berkaitan dengan profesi di lingkungan akuntan. Dengan adanya perubahan di dalam proses bisnis yang dilakukan di berbagai sektor yang ada di di Indonesia, maka profesi akuntan juga harus bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dunia di bidang teknologi.

“Bagaimana seorang akuntan itu memiliki kapasitas atau kapabilitas untuk memahami bisnis di era digital. Kita paham bahwa saat ini banyak perubahan. Seperti yang disampaikan oleh teman BRI. Kegiatan yang terkait dengan perbankan saja sudah terpengaruh dengan adanya berbagai transaksi finansial mengandalkan teknologi.

Oleh karena itu, maka perubahan kapasitas keterampilan semua harus berbenah. Termasuk bagi pegawai negeri juga harus berubah. Saat ini sudah tidak zamannya lagi bekerja dengan pola-pola tradisional, semua harus serba digital,” tegasnya.

Kegiatan IAI-AFA-IAESB International Conference sendiri merupakan kegiatan seminar yang mempertemukan para akuntan dan akademisi di seluruh negara ASEAN.

Kegiatan ini bertujuan sebagai ajang pertukaran di lingkungan profesi akuntan yang diharapkan ada saling menambah pemahaman bahwa di negara lain  praktiknya sudah sampai mana.

Menurut Prof. Sidharta Utama,  akademisi dan juga anggota Akuntan Indonesia,  isu utama yang diangkat dalam pertemuan akuntan dunia kali ini adalah bagaimana supaya akuntan dapat menjawab tantangan  perkembangan zaman.

Karena menurutnya, sekarang banyak perkembangan di bidang teknologi informasi, seperti ojek online dan market online. Di sana ada peran akuntan.  Hal itu dilakukan untuk memastikan bahwa perubahan bisnis tetap bisa berjalan dengan baik.

Kemudian yang kedua adalah membahas tentang  professional skepticism. Beberapa kejadian belakangan  terdapat laporan keuangan bahwa ada manipulasi. Melalui aspek pendekatan professional skepticism bisa mengurangi terjadinya manipulasi data.

“Tidak begitu saja dapat percaya atas data-data yang diberikan. Misalnya data yang diberikan oleh perusahaan untuk memastikan bahwa datanya benar.  Laporan keuangan yang dihasilkan itu menyampaikan apa adanya, jadi tidak asetnya digelembungkan,” pungkas Prof. Sidharta Utama.

Lihat juga...