Kartini Masa Kini Lampung Selatan, Berperanan Kuat di Sektor Pertanian

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Peringatan hari Kartini diperingati yang setiap tahun diperingati pada 21 April, menjadi simbol emansipasi wanita dalam dunia kerja.

Sejumlah pekerjaan yang membutuhkan tenaga kuat, seperti pekerjaan di sektor pertanian, kerap dilakukan oleh wanita. Marfuah (39), adalah salah satu buruh penanam jagung. Dulu, pekerjaan tersebut banyak dilakukan kaum laki laki. Namun kini, wanita mulai banyak yang melakukannya.

Buruh tanam jagung, membutuhkan tenaga yang prima. Di lahan empat hektare ada lima belas tenaga kerja wanita bekerja. Para buruh tanam tersebut merupakan para Kartini, yang ingin sejajar dengan kaum laki-laki dalam pekerjaan pekerjaan tersebut.

Belasan buruh wanita tersebut masing-masing memiliki tugas berbeda. Ada yang menjadi penajuk atau pembuat lubang tanam. Ada yang menjadi penabur benih. Pada musim tanam, para buruh  bisa berpindah ke sejumlah lahan, sesuai permintaan pemilik kebun.

Satu lahan bisa diselesaikan dalam waktu satu hari menyesuaikan luasan lahan yang akan ditanami. “Semakin luas lahan, maka bisa selesai lebih lama. Ada yang bisa diselesaikan dalam waktu dua hari, karena lahan seluas delapan hektare milik satu orang dengan penanaman jagung dilakukan sistem manual,” ungkap Marfuah saat ditemui Cendana News, Minggu (21/4/2019).

Marfuah menjadi buruh tanam dengan sistem paket. Artinya, dalam satu kali penanaman Dia bekerja bersama satu tim berjumlah minimal lima belas orang, bahkan bisa mencapai dua puluh orang. Cara tersebut memudahkan pencari tenaga kerja, untuk berangkat ke satu lokasi lahan.

Satu hari kerja Marfuah bersama 15 wanita buruh tanam diupah sebesar Rp70.000 perhari. Selain mendapatkan upah, buruh tanam juga mendapatkan makan, minum, serta fasilitas dijemput dengan kendaraan.

Pekerjaan sebagai buruh tanam merupakan cara para wanita tersebut membantu suami. Wanita asal Kecamatan Sragi tersebut mengatakan, sang suami yang juga bekerja sebagai buruh, kerap memperoleh hasil yang minim.

Wukir,pemilik lahan jagung seluas empat hektare di Desa Karangsari,Kecamatan Ketapang Lampung Selatan – Foto Henk Widi

Pemilik lahan, Wukir, menyebut, memperkerjakan wanita karena lebih teliti dan rajin bila dibanding tenaga kerja laki-laki. Untuk lahan jagung seluas empat hektare, Dia membutuhkan tenaga kerja 20 orang. Cara penanaman manual masih membutuhkan tenaga kerja wanita. Peranan wanita pada sektor pertanian sangat terlihat andilnya. “Wanita yang bekerja sebagai buruh tanam bisa membantu pemilik lahan hingga proses pemupukan, pemetikan. Meski untuk buruh angkut menggunakan tenaga laki-laki,” tandas Wukir.

Wukir menyebut, wanita bisa terlibat langsung membantu kaum laki-laki di pertanian. Petani wanita yang mandiri bisa ikut mendukung swasembada Padi Jagung dan Kedelai (Pajale). Kondisi tersebut mendorong terbentuknya Kelompok Wanita Tani (KWT), sebagai bentuk peran wanita di bidang pertanian.

Selain di pertanian, peran wanita di Lamsel juga terlihat di usaha kecil pembuatan batu bata. Kerajinan batu bata di Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas, mempekerjakan sejumlah wanita. Mereka memiliki andil penting dalam produksi batu bata.

Sumini, produsen batu bata di Tanjungsari mengaku dalam sepekan bisa membuat sekira 500 batu bata. Batu bata tersebut dijual saat dengan harga Rp250.000 perseribunya. Pekerjaan yang selama ini didominasi kaum laki-laki diakuinya sudah mulai dikerjakan para wanita. Pekerja wanita lebih telaten dalam pembuatan batu bata secara manual. “Kami juga bisa mendapatkan penghasilan agar bisa membantu suami untuk menabung bagi kebutuhan sehari hari dan pendidikan anak,” papar Sumini.

Pekerjaan membuat batu bata bisa dikerjakan sembari mengasuh anak. Perhari tetap bisa menghasilkan maksimal ratusan batu bata meski sambil mengasuh anak. Kesetaraan antara laki laki dan wanita diakuinya menjadi salah satu langkah untuk bekerja dalam pekerjaan berat sekalipun sehingga bisa menambah penghasilan.

Lihat juga...