Hingga April 2019, 281 Warga Sikka Positif DBD
Editor: Mahadeva
MAUMERE – Hingga 4 April 2019, sudah 281 warga Kabupaten Sikka positif terinveksi Demam Berdarah Dengue (DBD).

Dari jumlah tersebut, empat penderita, yang terdiri dari anak-anak dan remaja, dilaporkan meninggal dunia. “Meski demikian Kabupaten Sikka tidak sampai pada penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB). Padahal setiap tiga tahun sekali, Sikka selalu mendapat status KLB,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sikka, dr. Maria Bernadina Sada Nenu, MPH, Jumat (5/4/2019).
KLB pertama kali terjadi di Sikka pada 2010, dengan jumlah penderita 861 orang, dan merenggut nyawa 10 orang. Di 2013 terdapat 378 orang dilaporkan positif DBD, tiga orang diantaranya meninggal dunia. “Dinkes Sikka telah mengantisipasi dan meningkatkan gerakan 4 M Plus. Pemberantasan sarang nyamuk lebih ditingkatkan, dan memang sangat memberikan dampak positif, untuk mencegah warga terserang DBD,” ungkapnya.
Di 2018 pasien DBD terbanyak berumur lima sampai 15 tahun, disusul umur satu sampai empat tahun. Selanjutnya pasien berusia lebih dari 15 tahun berjumlah 35 orang, dan dibawah satu tahun sebanyak enam orang.
“Demam berdarah hampir selalu ada di setiap wilayah dari 21 kecamatan di Sikka. Jumlah penderita terbanyak tetap berada di daerah perkotaan dan sekitarnya, akibat pola hidup masyarakat yang belum mau menjaga kebersihan lingkungan dengan baik,” ungkapnya.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehtaan Kabupaten Sikka, Avelinus S. Nong Erwin, menyebut, untuk tahun ini hingga 4 April 2019, jumlah penderita DBD ada 281 orang. Dengan perincian di Januari sebanyak 65, kasus dan Februari 66 kasus.
Maret meningkat menjadi 138 kasus, dan hingga 4 April ada 12 kasus. “Seharusnya Maret kasusnya sudah menurun, tapi tahun ini malah meningkat tajam. Ini terjadi karena kondisi cuaca yang tidak menentu, dimana curah hujan juga masih sangat tinggi dan terjadi angin kencang,” terangnya.
Hingga saat ini, petugas dinas kesehatan telah melakukan fogging atau pengasapan di 53 lokasi. Pengasapan dilakukan dua kali di setiap lokasi. Fogging pertama untuk memberantas nyamuk Aedes aegypti yang sudah terinfeksi virus DBD.
Sementara fogging kedua, untuk membasmi jentik yang sedang berkembang biak menjadi nyamuk dewasa. “Seekor nyamuk Aedes aegypti dewasa bisa menghasilkan 200 sampai 330 telur. Bila induk nyamuknya sudah tertular virus demam berdarah maka telurnyapun sudah ada virusnya, sehingga harus dibasmi,” jelasnya.
Seekor nyamuk Aedes aegypti bisa berumur antara dua minggu sampai tiga bulan. Bila hujan dan panas berlangsung secara beruntun, maka umur nyamuk penyebar demam berdarah bisa mencapai 3 bulan. Kasus DBD paling banyak ada di tiga kecamatan di kota Maumere yakni Alok, Alok Barat dan Alok Timur. “Untuk tahun ini Kecamatan Alok terdapat di Kelurahan Madawat, Kota Uneng dan Kabor,” paparnya.
Sementara di Kecamatan Alok Timur terdapat di Kelurahan Nangameting dan Kota Baru. Kecamatan Alok Barat terdapat di Kelurahan Wailiti dan Wolomarang. Tiga kecamatan ini setiap tahun kasus DBD-nya selalu tinggi.