Buruh Bangunan dan Buruh Tani, Penghasilan Sementara Korban Tsunami
Editor: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Empat bulan usai tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 silam, sejumlah warga pesisir Rajabasa, Lampung Selatan (Lamsel) masih belum melaut.
Pasalnya sejumlah warga yang berprofesi sebagai nelayan tangkap masih berusaha memperbaiki sarana alat tangkap yang rusak akibat tsunami.
Somad (40) penyintas tsunami yang bekerja sebagai nelayan mengaku, perahu cadik miliknya mengalami kerusakan sedang. Perbaikan pada bagian lunas cadik telah dilakukan dengan papan kayu serta bambu baru.
Ia menyebut, menjadi salah satu korban tsunami yang rumahnya rusak dan harus tinggal di rumah salah satu kerabat. Meski dibangun hunian sementara (huntara) di Desa Sukaraja, Kecamatan Rajabasa, ia memilih tinggal sementara di rumah kerabat hingga bisa kembali merenovasi tempat tinggal.
Pekerjaan mencari ikan dengan sistem pancin rawe dasar disebut Somad, menjadi sumber penghasilan harian. Ikan yang diperoleh diakuinya dijual di pasar Way Muli dengan rata-rata ratusan ribu per hari sehingga uang penjualan bisa digunakan untuk membeli beras.
Somad menyebut, ada sekitar ratusan nelayan di pantai Desa Sukaraja sebagian belum melaut. Peralatan tangkap ikan yang masih rusak membuat nelayan sementara beralih pekerjaan sebagai buruh bangunan, buruh tani.
Sejumlah warga menjadi buruh pembangunan fasilitas ruang kelas baru (RKB) di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darussalam dan Madrasah Tsnanawiyah (MTS) serta Madrasah Aliyah (MA) Nurul Islam Sukaraja.
“Sebagian nelayan warga pesisir Desa Sukaraja memilih menjadi buruh bangunan dengan penghasilan harian bisa dipergunakan untuk menutup kebutuhan harian. Sebagian disisihkan untuk modal memperbaiki perahu,” papar Somad saat ditemui Cendana News di pantai Sukaraja, Jumat (12/4/2019).
Somad menyebut, masih cukup beruntung dibanding sejumlah nelayan lain, pasalnya ia masih memiliki uang simpanan. Selain itu sebagai nelayan tangkap, ia masih bergantung dari salah satu ”bos” atau pemodal untuk aktivitas melaut.
Pinjaman uang untuk modal melaut sekaligus perbaikan perahu menjadi salah satu penyemangat baginya untuk kembali beraktivitas. Sebagian nelayan bahkan mendapat dukungan bantuan alat tangkap yang disalurkan melalui kelompok nelayan.
Somad memastikan, empat bulan usai tsuami nelayan dan warga masih belum memiliki usaha tetap. Namun ia memastikan, sejumlah nelayan akan terus melakukan usaha untuk mendapatkan penghasilan.
Musim panen padi di wilayah Sukaraja yang berada di bawah kaki Gunung Rajabasa sekaligus menjadi sumber mata pencaharian warga. Meski demikian, Somad menyebut, saat kondisi normal warga Desa Sukaraja akan kembali menekuni usaha sebagai nelayan pencari ikan.
Herman (39) salah satu warga Sukaraja menyebut, buruh atau kuli bangunan menjadi salah satu pekerjaan yang bisa dilakukan. Satu bangunan Taman Pendidikan Alquran (TPA) yang dibangun usai tsunami dikerjakan oleh warga.
Ia menyebut, buruh bangunan tetap memperoleh penghasilan dari pekerjaan tersebut. Mendapatkan hasil sebagai buruh bangunan rata-rata sebesar Rp80.000 saja. Dalam sepuluh hari buruh bangunan bisa memperoleh hasil Rp800 ribu.
“Meski penghasilan belum stabil, namun pekerjaan sebagai buruh bangunan cukup membantu warga yang sebagian merupakan penyintas tsunami,” beber Herman.
Herman juga menyebut, sebagian warga yang bekerja sebagai nelayan tetap ingin kembali melaut. Namun keterbatasan modal untuk memperbaiki perahu, alat tangkap berupa jaring serta pancing, membuat nelayan masih istirahat melaut.
Solusi mencari pekerjaan lain menjadi pilihan agar warga bisa mendapatkan uang. Sebagian warga disebut Herman tetap berusaha menabung agar bisa memiliki perahu untuk mencari ikan di laut.
Salah satu nelayan lain bernama Abdul Hamid (60) yang kehilangan rumah menanam pisang di lahan miliknya.

Lahan seluas kurang lebih 100 meter persegi tersebut diakuinya sebelumnya berdiri kokoh rumah yang rusak diterjang tsunami. Menanam pisang diakuinya menjadi harapan untuk bisa memperoleh penghasilan sebab ia bisa menjual hasil panen pisang miliknya.
Sebagai nelayan tangkap ikan ia juga menyebut, masih belum bisa kembali melaut karena perahu masih rusak.
“Sementara saya tinggal di huntara kadang-kadang di rumah kerabat karena rumah sudah rusak,” beber Abdul Hamid.
Sarbini, kepala Desa Sukaraja menyebut, sesuai data di desa yang dipimpinnya, ada sebanyak 120 nelayan.

Sekitar 90 nelayan yang ada dan terdampak tsunami diakuinya belum beraktivitas karena masih ada sekitar 30 nelayan yang melaut.
Sebanyak 27 kepala keluarga dengan sebanyak 110 jiwa masih menempati hunian sementara (huntara) yang dibangun oleh Nahdatul Ulama (NU) Peduli Kemanusiaan. Belum beraktivitasnya sejumlah nelayan disebut Sarbini membuat buruh bangunan dan buruh tani menjadi pilihan.
“Sebagian nelayan ada yang sudah melaut terutama pemilik perahu bantuan atau memperbaiki secara swadaya melalui modal pinjaman,” beber Sarbini.
Sarbini juga menyebut, adanya pembangunan fasilitas sekolah atau rumah warga membuat tenaga kerja sangat dibutuhkan. Warga penyintas tsunami disebutnya selain bekerja di wilayah desa Sukaraja, sebagian memilih mencari pekerjaan di desa Way Muli dan kecamatan lain.
Adanya sejumlah kerabat yang memiliki lahan pertanian di wilayah Penengahan membuat warga bisa menjadi buruh tani sebagai sumber penghasilan sementara.