Budi Daya Pisang di Lampung Terimbas Layu Fusarium

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Budi daya pisang di Kabupaten Lampung Selatan terimbas hama penyakit layu fusarium Oxysphorum.

Suyatinah, petani pisang di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut, gejala awal serangan hama daun berwarna kuning, layu dan menjalar ke bagian buah pisang yang tidak bisa dipanen.

Akibat dari hama tersebut, penurunan produksi cukup signifikan. Dari ratusan batang tanaman pisang yang ditanam, hanya puluhan batang yang bisa dipanen. Layu fusarium menyerang pisang varietas kepok, janten, rajabulu serta tanduk. Secara kasat mata, buah pisang terserang layu fusarium masih dalam kondisi baik, namun saat dibelah buah pisang memiliki bercak hitam dan tidak layak dikonsumsi.

Pada kondisi normal, pemanenan bisa dilakukan secara bertahap dalam beberapa sepekan sekali. Suyatinah bisa memanen sekira 20 hingga 30 tandan dengan harga bervariasi. Harga pisang mendekati Ramadan kerap naik, seiring permintaan yang meningkat. Di tingkat petani, harga pisang dijual mulai Rp10.000 hingga Rp40.000 pertandan sesuai jenisnya. Jika dirata-rata pertandan seharga Rp10.000, Dia bisa mendapatkan Rp200.000 perpekan untuk 20 tandan pisang.

“Pada pertengahan bulan April tanaman pisang mengalami gejala layu fusarium sehingga produksi setiap rumpun berkurang dibanding kondisi normal sekaligus memiliki harga jual menjanjikan,” terang Suyatinah saat ditemui Cendana News, Senin (29/4/2019).

Tanaman pisang terkena penyakit layu fusarium mengalami kerusakan pada daun dan buah mengalami pembusukan – Foto Henk Widi

Tanaman pisang yang aman dari layu fusarium adalah jenis pisang muli atau pisang susu. Meski demikian, jenis pisang tersebut memiliki harga jual rendah, hanya Rp3.000 pertandan. Masa panen pisang muli bisa dilakukan setiap dua pekan, karena menjadi buah segar dan cepat matang.

Upaya meminimalisir serangan layu fusarium telah dilakukan dengan berbagai cara. Seperti penyemprotan fungisida untuk menghilangkan jamur. Selain itu, juga dilakukan pembersihan lahan sekaligus pemberian pupuk NPK, SP-36 dan dolomit.

Proses menjalarnya penyakit akibat angin kencang atau golok penebang pohon menulari tanaman lain, dan mempercepat serangan. “Agar serangan layu fusarium tidak menular ke tanaman lain cara efektif dilakukan dengan memusnahkan tanaman memakai sistem bakar,” ujarnya.

Sodikin, petani pisang di Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, yang ada di Pulau Rimau Balak menyebut, tanamannya terimbas layu fusarium. Petani yang juga menjadi pengepul pisang antar pulau itu biasanya mengumpulkan hingga 500 tandan pisang untuk dijual ke Jawa.

Namun karena layu fusarium, Dia hanya bisa mengumpulkan sekira 300 tandan. Pisang tersebut dibeli dari petani di Pulau Kandang Balak, Rimau Balak dan Prajurit. “Kami memanen pisang lebih cepat dua pekan sebelum matang, namun pada musim kali ini produksi menurun akibat layu fusarium,” pungkasnya.

Lihat juga...