LAMPUNG – Banjir akibat hujan dengan intensitas besar sejak Jumat (26/4) hingga Sabtu (27/4), membuat permukiman warga di Kecamatan Sidomulyo, Kecamatan Merbau Mataram, Bakauheni, Lampung Selatan, terendam ari dan menimbulkan kerusakan.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Lamsel, Nanang Ermanto, menyebut, beberapa kali wilayahnya dilanda bencana banjir akibat kerusakan lingkungan. Ia pun mengimbau kepada masyarakat di kawasan berpotensi rawan bencana banjir, untuk menjaga lingkungan. Cara tersebut bisa dilakukan dengan menjaga tanaman penjaga resapan air, serta menghentikan aktivitas membuang sampah di sungai.

Kegiatan reboisasi di kawasan daerah aliran sungai (DAS), sebutnya, harus diperhatikan. Selain itu, alih fungsi sejumlah DAS serta aliran air untuk bangunan mengakibatkan penyempitan badan sungai.
Penyempitan aliran sungai oleh sampah sekaligus menjadi penyebab banjir melanda sebagian wilayah Lamsel, salah satunya di wilayah Bakauheni. Luapan sungai Muara Bakau serta sungai kecil di Kenyayan mengakibatkan puluhan rumah mengalami kerusakan.
“Reboisasi harus kita perhatikan, dengan melakukan penanaman pada sejumlah lahan yang sudah kritis. Selain itu, harus dikurangi membuang sampah ke sungai,” terang Nanang Ermanto, saat mengunjungi korban banjir di Bakauheni, Senin (29/4/2019).
Selain memberikan imbauan kepada warga terimbas bencana banjir, Nanang Ermanto juga meminta warga bergotong royong membersihkan rumah warga. Sikap kegotong royongan ditunjukkan dengan membantu rumah warga yang terkena material lumpur dan sampah akibat banjir.
Sementara, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamsel, memberikan bantuan untuk sejumlah wilayah terdampak banjir. Bantuan itu antara lain bagi warga di Kecamatan Sidomulyo, 60 paket, Merbau Mataram sebanyak 6 paket dan Bakauheni 260 paket.
Bantuan berupa paket sembako tersebut, diharapkan bisa meringankan beban bagi masyarakat. Ia juga berharap, pemerintah desa, kecamatan bisa membantu warga yang terkena dampak banjir, terutama dalam perbaikan rumah warga yang rusak akibat banjir.
Sesuai data, di wilayah Bakauheni yang paling parah terdampak banjir sebanyak 150 rumah terendam banjir. Hujan deras disertai banjir bandang di Muara Bakau, Way Apus, Kenyayan membuat permukiman warga terendam air dan lumpur.
Sejumlah batang kayu, bambu bercampur sampah mengakibatkan kerusakan rumah warga. Akibat banjir, sejumlah talud sungai jebol di Muara Bakau, jalan aspal di Way Apus terkelupas dan jembatan serta akses jalan rusak di Dusun Kenyayan.
Rumah warga terendam banjir terbanyak di Dusun Kenyayan berjumlah 150 rumah. Di Dusun Pegantungan sebanyak 20 rumah, di Dusun Muara Bakau sebanyak 90 rumah.
Masti, salah satu warga di Dusun Kenyayan, mengungkapkan akibat banjir yang berada di dekat aliran sungai Kenyayan, rumah miliknya terendam, dan terpaksa mengungsikan barang-barang miliknya.
“Semua perabotan dapur terendam oleh luapan banjir tidak bisa dipergunakan untuk memasak, namun beruntung warga memperoleh bantuan dari pemerintah,” beber Masti.
Masti berharap, masyarakat yang tinggal di kawasan hulu sungai bisa menjaga alam dengan tidak menebang pohon. Sebab, material penebangan pohon berupa ranting dan batang mengakibatkan aliran sungai tersumbat.
Sampah yang dibuang di sungai, kata Masti, masuk ke perumahan warga. Rumah warga di Kenyayan bahkan mengalami jebol pada bagian pintu dan kaca. Meski kegiatan membuang sampah dilakukan oleh warga di bagian hulu sungaim, imbasnya dirasakan oleh warga di bagian hilir.
Suhadi, warga lainnya, juga mengaku rumah terbuat dari geribik miliknya jebol akibat banjir. Menurutnya, banjir pada akhir April tahun ini merupakan banjir terparah sejak kurun waktu dua tahun terakhir.
Sejak proses pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS), sejumlah perbukitan yang tergusur mengakibatkan longsor. Longsoran yang terbawa aliran air berimbas pendangkalan sungai, dan saat hujan mengakibatkan luapan air ke permukiman warga.
Ia berharap, ada upaya pengerukan material tanah yang bisa mengakibatkan banjir saat hujan tiba.