Usaha Makanan Dominasi Pertumbuhan IKM di Indonesia

Editor: Koko Triarko

PURWOKERTO – Pertumbuhan sektor usaha makanan, sampai saat ini masih mendominasi Indutri Kecil Menengah (IKM) di Indonesia. Bahkan, sektor ini hampir mencapai 50 persen dari seluruh IKM yang ada. Disusul IKM di sektor kerajinan, furniture dan asesoris otomotif. Pertumbuhan IKM ini mampu mengurangi angka pengangguran hingga 10 persen lebih.

Pernyataan tersebut disampaikan Kasubdit IKM Elektronika dan Telematika Kementerian Perindurian, Agustav Fitrian, usai mengisi acara pada hari terakhir pelatihan wirausaha pemula di Purwokerto, Jumat (1/3/2019). Menurutnya, pertumbuhan IKM sektor makanan ini paling banyak di Jawa.

Kasubdit IKM Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian, Agustav Fitrian. -Foto: Hermiana E. Effendi

ʺUsaha makanan masih mendominasi, pertumbuhannya merata, namun yang paling pesat di Jawa. Kemudian disusul dengan industri kerajinan, furniture dan asessoris mobil,ʺ terangnya.

Agustav menyatakan, melihat antusiasme para wirausaha pemula mengikuti pelatihan ini, pihaknya optimis target 20.000 IKM pada 2019 ini bisa tercapai.

Sejak 2016, pemerintah mentargetkan pertumbuhan IKM sampai pada angka 20.000. Dan, memasuki awal 2019 ini, pertumbuhan IKM sudah sampai angka 16.000 di seluruh Indonesia.

ʺMelihat angka pertumbuhan tersebut, secara otomatis juga ikut menyumbang terhadap pengentasan pengangguran. Memang belum ada data pasti, tetapi kita perkirakan, pertumbuhan IKM ini mampu mengurangi angka pengangguran hingga 10 persen lebih,ʺ jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI yang hadir dalam acara tersebut, Dito Ganinduto, mengaku sangat terkejut dengan antusiasme para wirausaha pemula di wilayah Banyumas dan Cilacap.

Selama lima hari mengikuti pelatihan yang digelar Komisi VI bersama Kementrian Perindustrian ini, para wirausaha pemula selalu mengikuti pelatihan dengan serius dan disiplin.

ʺSetelah didatangkan para ahli, maka diharapkan produksi mereka akan meningkat, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Imbasnya adalah mereka akan membutuhkan suntikan modal untuk meningkatkan produksinya. Dan, saya di Komisi VI yang juga bermitra dengan BUMN, siap untuk memfasilitasi, baik dari kredit kecil seperti Kredit Usaha Kecil (KUR) hingga yang besar sampai ratusan juta,ʺ kata Dito.

Lihat juga...