Pengungsi Tsunami Rajabasa Tempati 40 Huntara TNI AD

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sejumlah pengungsi bencana alam tsunami di Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) mulai pindah dari tenda pengungsian ke hunian sementara (huntara).

Sebanyak 40 fasilitas huntara yang sudah selesai dibangun dan bisa ditempati di antaranya dibangun oleh
TNI Angkatan Darat.

Kepala Staf Kodim (Kasdim) 0421 Lampung Selatan, Mayor Inf. Agus Waluyo, mendampingi Danrem 043/Garuda Hitam, Kolonel Inf. Taufiq Hanapi menyebut, huntara berada di desa Way Muli Induk dan desa Rajabasa.

Kasdim 0421 Lamsel, Mayor Inf Agus Waluyo, secara simbolis menyerahkan bantuan sekaligus peresmian huntara di Desa Way Muli Induk, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

Mayor Inf Agus Waluyo menyebut, tujuan pembangunan huntara merupakan upaya TNI AD membantu pemerintah daerah Lamsel meringankan beban masyarakat yang terkena bencana agar dapat hidup dengan layak.

Fasilitas huntara yang dibangun TNI AD di Desa Way Muli Induk, disebutnya berjumlah sekitar 20 unit dan di Desa Rajabasa berjumlah 20 unit atas kerjasama dengan Persekutuan Gereja Tionghoa Indonesia (PGTI) dan sejumlah donatur.

Kasdim menambahkan, huntara yang dibuat meski bersifat sementara, namun jauh lebih nyaman dibandingkan berada di tempat pengungsian.

Ia juga berharap, huntara bisa menjadi sarana untuk membina kembali kehidupan rumah tangga yang selama ini tinggal di pengungsian. Fasilitas huntara yang berada di Desa Way Muli Induk, diakuinya juga dilengkapi dengan kamar mandi dan toilet sekaligus air bersih memadai.

Fasilitas toilet dan kamar mandi dengan pasokan air mengalir digunakan oleh warga di huntara Desa Way Muli Induk, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

“Proses pembangunan huntara dilakukan melibatkan anggota TNI AD dari Korem 043 Garuda Hitam serta dibantu pemerintah daerah, masyarakat, relawan, donatur serta sejumlah pihak hingga bangunan huntara bisa ditempati oleh sejumlah pengungsi,” terang Kasdim 0421 Lamsel. Mayor Inf Agus Waluyo, saat peresmian huntara di Desa Way Muli Induk, Selasa (5/3/2019).

Kasdim mengungkapkan, fasilitas huntara juga dilengkapi akses jalan yang memadai, air bersih serta listrik untuk kenyamanan pengungsi. Selain fasilitas huntara sebagai tempat tinggal warga juga mendapatkan perlengkapan rumah tangga.

Sejumlah perlengkapan yang dibagikan diantaranya lemari pakaian, meja kursi plastik, kasur, kompor dan tabung gas, sembako, selimut dan sarung, alat makan serta peralatan mandi.

Sejumlah fasilitas tersebut diharapkan bisa dipergunakan pengungsi untuk melanjutkan kehidupan seperti biasa hingga pembangunan hunian tetap (huntap) dibangun pemerintah.

Pada kesempatan tersebut, Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Priyanto Putro, menyebut, Pemda Lamsel sangat mengapresiasi peran berbagai pihak. Peran berbagai pihak diakuinya sangat membantu pascatsunami melanda wilayah Lamsel pada 22 Desember 2018 dengan kecamatan yang paling parah dilanda berada di Kecamatan Rajabasa.

Khusus di Desa Way Muli Induk dan Desa Rajabasa, Priyanto Putro menyebut, saat ini telah dibangun huntara oleh TNI AD serta sejumlah donatur.

Di lokasi huntara desa Way Muli Induk, sebanyak 20 huntara dibangun TNI AD dan relawan lain sebanyak 3 unit.

Ia menyebut, dengan sebanyak 48 warga terdampak tsunami yang harus mendapatkan huntara, pihak pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan pembangunan huntara tahap berikutnya.

Sebanyak 25 huntara disebut Priyanto Putro akan dibangun di sebelah huntara yang telah bisa ditempati dan proses pembersihan lahan (land clearing) sudah dilakukan.

“Proses pembangunan huntara telah dibantu oleh berbagai unsur, dan pemerintah sangat berterima kasih sehingga pengungsi bisa tinggal di tempat layak,” terang Priyanto Putro.

Rohani, korban tsunami yang mengungsi hampir selama kurang lebih tiga bulan mengaku, ia kehilangan rumah dan mata pencaharian sebagai nelayan. Selain rumahnya rusak diterjang gelombang, perahu untuk menangkap ikan miliknya hingga kini belum diperbaiki.

Setelah tsunami ia mengaku tinggal di tenda pengungsian Desa Way Muli Induk dan sudah menempati huntara sejak sepuluh hari terakhir hingga huntara diresmikan oleh pihak TNI AD dan pemkab Lamsel.

Rohani menyebut, dibandingkan tinggal di tenda pengungsian, huntara yang dibuat diakuinya lebih nyaman. Bangunan berukuran sekitar 4×6 meter disebutnya memiliki fasilitas tempat tidur dan ia mendapat peralatan memasak.

Keberadaan listrik serta air bersih berlimpah, membuat ia bisa lebih nyaman tinggal di lokasi huntara. Meski demikian ia menyebut, berharap masih ada bantuan alat tangkap perahu agar ia bisa memulai mencari nafkah untuk kehidupannya.

Sejumlah pengungsi lain yang belum memperoleh huntara dari pantauan Cendana News masih tinggal di tenda pengungsian. Warga yang memilih tinggal di tenda pengungsian total berjumlah sekitar 25 kepala keluarga sembari menunggu huntara dibangun.

Meski tinggal di huntara, warga di desa Way Muli Induk masih memiliki fasilitas dapur umum yang dipergunakan untuk kebutuhan memasak. Sebagian warga yang belum mendapatkan huntara di antaranya memilih tinggal di rumah kerabat hingga huntara selesai dibangun.

Lihat juga...