Nelayan Pesisir Lampung Kembali Melaut Usai Cuaca Buruk

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Ratusan nelayan di pesisir barat Lampung Selatan (Lamsel) dan wilayah pesisir timur hingga ke Kabupaten Lampung Timur (Lamtim) kembali melaut usai cuaca buruk. Sepekan sebelumnya mereka memilih beristirahat menunggu kondis membaik.

Samanhudi (40) warga Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lamsel menyebutkan, mulai menyiapkan bagan apung atau drum setelah. Sebelumnya terpaksa ditepikan akibat gelombang tinggi disertai angin kencang beresiko menyebabkan kerusakan.  Selain kondisi cuca didominasi oleh angin kencang di atas 18 knots dan gelombang lebih dari 2 meter, fenomena full moon (bulan purnama) pada Kamis (21/3) malam membuat proses pencarian ikan terhambat.

Samanhudi menyebutkan, saat bulan purnama, ikan pelagis bahan baku untuk teri sulit ditangkap. Ikan yang kerap bergerombol akan mudah ditangkap saat kondisi bulan mati dengan cahaya yang minim.

“Dalam kondisi normal bisa menangkap ikan teri, cumi, selar serta jenis lain sebanyak 2 kuintal,” terang Samanhudi saat ditemui Cendana News, Senin (25/3/2019).

Nelayan di teluk Minang Rua disebut Samanhudi mengandalkan keteduhan teluk untuk memasang bagan apung. Pasalnya perairan yang berada di teluk tersebut memiliki gelombang yang tenang, bukan jalur pelayaran umum sekaligus terlindung pulau Sekepol, pulau Mengkudu. Meski demikian saat gelombang tinggi dan angin kencang berimbas pada aktivitas di wilayah tersebut. Total ada sekitar 10 bagan beroperasi di wilayah tersebut dan sekitar 50 perahu berbagai ukuran untuk aktivitas menangkap ikan.

Subarkah (60) pencari ikan sistem jaring mengatakan, saat kondisi normal dalam beberapa jam bisa mengumpulkan sekitar lima kilogram ikan simba, selar dan salem.

“Saat kondisi gelombang tinggi membuat sulit mencari ikan. Baru awal pekan ini cuaca mulai bersahabat,” cetus Subarkah.

Nelayan menambatkan perahu di pantai Minang Rua Bakauheni. Foto: Henk Widi

Nelayan di pantai Purworejo, Hamsari (50) menyebutkan, kepiting dan rajungan yang berada di sekitar kawasan mangrove akan mudah dicari saat perairan surut. Saat kondisi perairan timur sedang tidak bersahabat, Hamsari dan rekan seprofesi lainnya memilih mengurus tambak. Sebaliknya saat kondisi cuaca bersahabat ia memilih melaut di wilayah tersebut untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Sistem tambak tradisional tanpa perawatan yang sulit seperti tambak intensif membuat ia bisa membudidayakan udang windu sekaligus bisa ditinggalkan melaut.

Kembali melautnya sejumlah nelayan usai cuaca buruk membuat pedagang ikan keliling (pelele) mendapat pasokan lebih lancar. Maman (40) salah satu pedagang asal Kalianda menyebut ia mulai mudah mendapatkan di tempat pelelangan ikan Kalianda untuk dijual. Ikan yang dijual diantaranya tengkurungan, simba, lape, kuniran, jolot serta bandeng. Harga yang ditawarkan juga mulai stabil dari harga Rp15.000 per kilogram hingga Rp40.000 per kilogram.

Lihat juga...