Mangrove Miliki Manfaat Ekonomi dan Ekologi Masyarakat Pesisir
Editor: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Bupati Lampung Timur, Chusnunia Chalim atau akrab pula disapa Nunik, menyebut, tanaman mangrove memiliki manfaat yang cukup banyak bagi warganya.
Manfaat tersebut diakui Nunik, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir pantai timur Lampung. Bagi masyarakat di Desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti, Lampung Timur (Lamtim) dan Kecamatan Labuhan Maringgai, manfaat secara ekonomis dan ekologis diakuinya sudah dirasakan selama puluhan tahun.
Penanaman mangrove disebut Nunik, menggunakan istilah nelayan setempat, ‘bagaikan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui’.

Sebab, penanaman mangrove disebutnya, bisa melakukan pencegahan abrasi oleh angin dan gelombang, juga peningkatan budidaya udang vaname terkait kualitas produksi. Karena dengan adanya mangrove kualitas udang lebih renyah saat diolah.
Mangrove bisa digunakan sebagai olahan sejumlah produk berupa kosmetik maupun kuliner di antaranya sirup mangrove.
Melalui pendampingan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Organisasi Aksi Solidaritas Kabinet Kerja (Oase) bidang lingkungan hijau, TNI, Kementerian Pertanian, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pemprov Lampung, dan Pemda Lamtim, terus melakukan upaya rehabilitasi mangrove.
Ia juga mengaku, sangat berharap ada peran serta dari pihak terkait untuk peningkatan kapasitas masyarakat. Untuk modal lunak sekaligus pelatihan bagi masyarakat.
“Fungsi mangrove sebagai sumber pelestarian lingkungan sekaligus bisa memiliki fungsi peningkatan ekonomi, sudah sangat terasa bagi masyarakat di Lampung Timur,” terang Chusnunia Chalim, bupati Lamtim, saat kegiatan penanaman mangrove di Kecamatan Pasir Sakti, Senin (11/3/2019).
Nunik menyebut, sebagian wilayah mangrove di wilayah Lamtim, terhubung dengan sejumlah sungai dan muara serta kawasan tambak budidaya udang putih (vaname). Keberadaan ratusan hektare lahan mangrove disebut Chusnunia Chalim, berfungsi sebagai sabuk hijau (green belt) sehingga menjadi benteng alam untuk kawasan budidaya udang.
Bagi nelayan ia juga menyebut, dengan adanya pengembangan wisata mangrove, masyarakat bisa memperoleh penghasilan. Ia menyebut, nelayan bisa menjadi penyedia jasa perahu saat hari libur untuk kegiatan wisata mangrove.
“Upaya mendukung sektor wisata berbasis mangrove, Pemkab Lamtim mengagendakan festival mangrove di Kecamatan Pasir Sakti dan Labuhan Maringgai,” tegas Nunik.
Melalui kegiatan penanaman serentak mangrove sebagai gerakan peduli mangrove dan pemulihan daerah aliran sungai (DAS), Nunik berharap, meningkatkan kesadaran masyarakat.
Sejumlah bencana alam akibat kurangnya benteng alam di dekat pantai menjadi contoh agar masyarakat bisa melakukan penanaman mangrove secara mandiri maupun atas dukungan pemerintah.
Melalui imbauan save mangrove atau selamatkan mangrove menjadi bagian langkah melestarikan alam untuk masa depan.
Mendukung pernyataan bupati Lamtim, Chusnunia Chalim, Dandim 0429/Lampung Timur, Letkol Inf. Ch. Prabowo, menyebut, mendukung upaya pemerintah dalam konservasi dan rehabilitasi mangrove.

Ia menyebut, melalui kegiatan penanaman serentak mangrove melibatkan sejumlah elemen masyarakat.
Kalangan pelajar di antaranya yang tergabung dalam saka Wirakartika yang merupakan binaan TNI AD di setiap Koramil, ikut dalam kegiatan penanaman mangrove tersebut.
Letkol Inf Ch. Prabowo juga menyebut, upaya penanaman serentak mangrove merupakan cara menanamkan sejak dini pentingnya konservasi.
Ia menyebut, upaya menanamkan pentingnya penghijauan di sepanjang pesisir pantai manfaatnya sangat besar untuk menjaga kerusakan lingkungan. Seusai penanaman serentak mangrove ia juga memastikan akan ikut mendukung pemerintah dengan ikut melakukan proses penanaman mangrove.
Ratusan siswa dari sejumlah sekolah tingkat SMP, SMA, mahasiswa dan unsur masyarakat ikut berpartisipasi dalam penanaman serentak mangrove.
“Melalui instruksi dari Danrem 043 kami jajaran Kodim 0429 Lampung Timur ikut mendukung upaya konservasi lingkungan dengan penanaman mangrove,” beber Letkol Inf Ch. Prabowo.
Upaya penanaman mangrove tersebut, mendapat dukungan dari nelayan di Desa Purworejo bernama Jamsari.
Jamsari menyebut, keberadaan mangrove di sepanjang pantai membuat dirinya bisa mendapatkan penghasilan dari mencari kepiting bakau. Selain itu ia menyebut dengan dibukanya kawasan mangrove sebagai destinasi wisata, ia bisa memperoleh sumber penghasilan baru.
Sebelum kawasan mangrove tersebut dibuka ia mengaku, hasil tangkapan ikan dalam sehari kerap hanya mendapatkan sekitar 20 kilogram ikan, dan kini memperoleh sekitar 50 kilogram.
Melalui kegiatan wisata mangrove, Jamsari mengaku, bisa mengantar wisatawan dengan tarif sekitar Rp100.000. Selain itu keberadaan wisata mangrove bisa memberi penghasilan bagi pemilik warung kuliner di antaranya penyedia ikan bakar serta kepiting di wilayah tersebut.
Ia berharap, peningkatan sektor wisata harus diimbangi dengan perbaikan dermaga tambat. Untuk tambatan perahu wisata di kawasan mangrove.