Hama Tikus, 70 Hektare Lahan Pertanian di Sleman Terlantar

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

YOGYAKARTA — Puluhan hektare lahan pertanian di Kecamatan Moyudan Sleman Yogyakarta diketahui puso atau terlantar sejak setahun lebih. Hal itu disebabkan banyaknya serangan hama tikus hingga membuat petani trauma.

Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, Heru Saptono menyebutkan, ada sekitar 70 hektare lahan di kecamatan Moyudan, tepatnya di blok Kedungbanteng, Sumberagung, yang terlantar. Para petani memilih beralih profesi sebagai buruh karena terus merugi.

“Kira-kira sudah setahun. Penyebabnya karena banyak hama tikus. Petani trauma karena padi selalu habis sebelum panen. Apalagi mayoritas petani disini adalah petani penggarap yang minim modal,” katanya.

Kepala Balai Proteksi Tanaman Pertanian, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Maman Suherman menambahkan, tiga kecamatan yakni Moyudan Minggir dan Segegan Sleman memang merupakan kawasan endemik hama tikus sejak lama.

Hal itu disebabkan karena petani di kawasan ini melakukan pola cocok tanam di waktu yang berbeda atau tidak serempak. Sehingga membuat hama tikus selalu dapat bermigrasi atau berpindah-pindah ke lokasi yang siap panen.

Sleman
Kepala Balai Proteksi Tanaman Pertanian, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Maman Suherman. Foto: Jatmika H Kusmargana

“Mestinya petani menanam padi secara serempak. Sehingga akan mengurangi dampak serangan hama tikus. Selain itu sistem pola tanam juga harus dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi,” ujarnya.

Salah seorang petani Wagiarto, mengakui sulitnya mengajak seluruh petani untuk menanam padi secara berbarengan atau serempak. Hal itu dikarenakan mereka sudah terlanjur pesimis mengingat banyaknya hama tikus.

“Petani sulit diajak menanam secara bersamaan karena hasil kurang menjanjikan. Hama tikus membuat harapan petani kecil, sehingga mereka memilih membiarkan lahan begitu saja,” ujarnya.

Lihat juga...