Diterjang Angin Kencang, Petani di Watudiran Gagal Panen

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

MAUMERE — Angin kencang yang melanda daerah tersebut dalam beberapa waktu terakhir merusak berbagai tanaman perkebunan hingga padi petani di sejumlah daerah di kabupaten Sikka.

Kepala desa Watudiran kecamatan Waigete kabupaten Sikka Maxentius Maxmilianus. Foto : Ebed de Rosary

“Sejak Februari lalu memang sudah terjadi angin kencang dan puncaknya di pertengahan bulan Maret,” sebut Maxentius Maxmulianus, Senin (25/3/2019).

Dikatakan Maksi, sapaannya, untuk padi boleh dikatakan tahun ini mengalami gagal panen. Hal ini diakibatkan curah hujan yang tidak menentu, hujan lebat disertai angin kencangi.

“Akibat angin kencang, lebih banyak tanaman pertanian dan perkebunan yang rusak seperti padi, kemiri, cengkeh dan pisang. Hampir setiap tahun desa kami memang selalu dihantam angin kencang, termasuk angin puting beliung,” jelasnya.

Desember 2016 hingga awal tahun 2017 lalu, terjadi bencana angin puting beliung, sebut Maksi, yang menyebabkan kerusakan berbagai rumah serta tanaman pertanian. Ada 30 rumah yang mengalami kerusakan.

“Di Watudiran bencana memang hampir setiap tahun terjadi mungkin karena topografi daerah ini yang berada di ketinggian,” jelasnya.

Potensi pertanian di desa Watudiran sangat menjanjikan. Dusun Warut mayoritas tanaman kemiri, dusun Kilawair tanaman kelapa sementara dusun Kloangaur penghasil jambu mente. Jumlah penduduk sebanyak 2.191 jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) 400 lebih.

“Memang potensi tanaman pertanian dan perkebunan sangat menjanjikan sekali. Tanahnya subur dan curah hujan juga bagus karena termasuk daerah dingin. Tapi kalau ada angin kencang maka petani pun pasti mengalami kerugian,” tuturnya.

Bernabas Kornelis, mantan penyuluh pertanian di desa Watudiran menyebutkan, angin kencang hampir setiap tahun terjadi. Tanaman cengkeh yang selalu jadi andalan petani pasti kerap mengalami kerusakan.

“Banyak pohon cengkeh yang tumbang apalagi yang baru berumur 3 hingga 5 tahun. Ranting-rantingnya pun mudah patah kalau terkena angin kencang padahal harga jual mente sangat tinggi. Tentu masyarakat hanya pasrah,” ujarnya.

Kor sapaannya berharap pemerintah bisa memberikan bantuan bahan pangan untuk para petani yang tanaman padinya mengalami kerusakan parah.

“Banyak masyarakat juga yang menanam kacang tanah untuk dikonsumsi sendiri ataupun untuk dijual. Kalau jagung jarang sekali petani yang tanam dalam jumlah banyak sebab hanya untuk dikonsumsi sendiri dan campur dengan beras,” pungkasnya. [Ant]

Lihat juga...