Diisi Booth Pak Harto, Pameran SO 1 Maret Digelar Lima Hari

Editor: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Memperingati Peristiwa Serangan Oemoem (SO) 1 Maret, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta menggelar pameran temporer bertajuk “Dari Jogja RI Berdaulat”, bertempat di selasar utara museum setempat, Jumat-Selasa (1-5/3/2019).

Dibuka pascaupacara Peringatan SO 1 Maret, Jumat pagi, pameran yang terselenggara atas kerjasama Dinas Kebudayaan DIY, Kesbangpol DIY, Korem 072 Pamungkas, Paguyuban Wehrkreise III, Yayasan Kajian Citra Bangsa, Komunitas Jogja 45, dan sebagainya ini menampilkan berbagai macam koleksi benda bersejarah selama masa perang Agresi Militer Belanda II.

Dari sekian banyak koleksi yang dipamerkan, yang paling menarik adalah adanya booth pameran yang menampilkan kiprah sosok Pak Harto yang memang tak bisa dilepaskan dari sejumlah peristiwa penting perjalanan sejarah bangsa Indonesia termasuk, Serangan Oemoem 1 Maret.

Sejumlah pejabat dan pimpinan muspika DIY mengunjungi booth tentang Pak Harto dalam pameran Serangan Oemoem 1 Maret di Benteng Vredeburg Yogya – Foto: Jatmika H Kusmargana

Dalam booth bertajuk “Membangun Kejayaan Kembali Indonesia” ditampilkan berbagai macam bukti nyata kiprah Pak Harto sejak masih mengabdi sebagai Prajurit TNI hingga saat memimpin Indonesia selama lebih dari 32 tahun.

Sejumlah koleksi yang ditampilkan antara lain 30 foto fragmen dan 100 buku tentang Pak Harto, hingga medali penghargaan dari PBB kepada Pak Harto.

Kurator Pameran, Gunawan Wahyudodo, mengatakan, seluruh benda yang ditampilkan dalam booth ini merupakan koleksi Museum Purna Bhakti Pertiwi. Dari sekian banyak koleksi itu yang paling menarik adalah dipamerkannya medali penghargaan pada Pak Harto sebagai “Bapak Pembangunan Indonesia”.

Medali penghargaan Pak Harto ikut dipamerkan dalam pameran Peringatan Serangan Oemoem 1 Maret di Benteng Vredeburg Yogya – Foto: Jatmika H Kusmargana

Terbuat dari bahan tembaga yang disepuh emas, medali berukuran diameter 50 mm dan tebal 3 mm ini  bergambar wajah Presiden kedua RI HM Soeharto di bagian depan, serta gambar Garuda Pancasila yang dilingkari rangkaian padi dan kapas di bagian belakang.

Medali lain yang juga dipamerkan adalah medali tertinggi di bidang kependudukan “United Nation Population Award” yang diterima Pak Harto dari UNDP karena berhasil menjaga jumlah populasi penduduk dengan penerapan program KB secara nasional.

Lalu ada juga medali tertinggi di bidang pangan, “From Rice Importer to Self Sufficiency” yang diberikan FAO pada Pak Harto karena berhasil mencapai swasembada pangan.

“Pak Harto juga mendapatkan penghargaan tertinggi di bidang pendidikan yakni “Avicenna Medals” dari UNESCO karena dinilai berhasil memajukan pendidikan dan kebudayaan di Indonesia melalui program wajib belajar.

Sedangkan di bidang kesehatan Pak Harto mendapatkan medali “Health For All Golden Medal Award” dari WHO karena berjasa dalan pembangunan kesehatan di Indonesia lewat program posyandu,” katanya.

Pengunjung asal Sleman Atik dan Wiwik ikut menyaksikan booth Pak Harto – Foto: Jatmika H Kusmargana

Sementara itu,  pengunjung, Etik dan Wiwik asal Sleman, mengaku antusias melihat pameran ini khususnya booth mengenai Pak Harto karena dapat melihat langsung sejumlah koleksi nyata capaian prestasi Presiden Kedua RI itu.

Bagaimanapun menurut mereka, jasa Pak Harto pada bangsa dan negara ini sangat besar sehingga tidak boleh dilupakan begitu saja.

“Generasi muda harusnya tahu akan capaian-capaian luar biasa seperti ini. Tahu tentang apa-apa saja yang telah dilakukan Pak Harto. Sehingga tidak sekadar melihat sebagaimana yang diberitakan saja. Karena Pak Harto adalah salah satu putra terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini,” katanya.

 

 

 

Lihat juga...