BKKBN Jawa Tengah Berupaya Tekan AKI
Editor: Mahadeva
BANYUMAS – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Jawa Tengah terus berupaya menekan Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan. Meskipun sejak tahun 2014 sudah mengalami penurunan. AKI di Jawa Tengah saat ini masih tergolong tinggi, sehingga harus terus dilakukan sosialiasi dan pencegahan.
Data BKKBN Jawa Tengah, AKI di Jateng pada 2014 mencapai 711 kasus. Di 2015 turun menjadi 619 kasus. Di 2016 juga kembali mengalami penurunan, karena hanya ada 602 kasus AKI. Di 2018, jumlahnya menurun dratis hanya 421 kasus AKI.
Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Tengah, Wagino, dalam Sosialisasi Advokasi dan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) di Balai Desa Pangebatan, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas mengatakan, sosialiasi yang dilakukannya, untuk menekan angka kematian ibu melahirkan, kematian bayi baru lahir dan kematian balita.
Masyarakat diharapkan ikut aktif, dalam berbagai program KB seperti Bina Keluarga Remaja (BKR), Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Lansia (BKL) dan kegiatan lainnya. “Kami terus mengajak masyarakat untuk secara aktif berpartisipasi dalam KB, terlebih ada banyak pilihan yang bisa diambil oleh masyarakat,ʺ terangnya, Selasa (26/3/2019).
Untuk kaum laki-laki, ada dua jenis metode KB yang bisa dipilih yaitu menggunakan kondom dan MOP atau Metode Operasi Pria. Sementara untuk perempuan, mereka bisa memilih lima jenis KB, mulai dari metode pil, suntik, implan, IUD atau spiral serta MOW (Metode Operasi Wanita).
Banyaknya pilihan tersebut, diharapkan memudahkan masyarakat dan meningkatkan partisipasi KB. ʺContoh konkritnya adalah Bupati Banyumas, Achmad Husein, yang merupakan satu-satunya bupati di Jawa Tengah yang melakukan KB MOP. Ini merupakan bentuk partisipasi kaum laki-laki dalam KB,ʺ tuturnya.
Wagino juga mengimbau, agar pernikahan usia dini sebisa mungkin dicegah. Sebab, pernikahan usia dini akan berdampak pada kesehatan ibu dan anak. Disarankan, wanita menikah minimal pada usia 21 tahun. Guna meminimalkan pernikahan dini ini, Wagino mendorong anak-anak usia sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain untuk meraih masa depan yang lebih baik, pendidikan juga sangat efektif untuk mencegah pernikahan dini.
ʺJika mendapatkan pendidikan tinggi, maka remaja akan lebih terbuka wawasannya, mereka akan memahami resiko yang harus ditanggung jika melakukan pernikahan di usia dini. Dan dari sisi kesehatan, pernikahan diri juga berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi,ʺ jelasnya.
Kepada pasangan suami-istri, Wagino juga menghimbau untuk merencanakan kehamilan dengan baik. Karena kehamilan yang terencana, akan jauh lebih baik untuk keluarga. Mulai dari pemberian ASI yang optimal, hingga kesehatan ibu dan bayi yang terjaga.