Pasokan Air Belum Lancar, Perlu Biaya Ekstra Aliri Sawah

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Lahan pertanian yang masih dilanda kekeringan di wilayah kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) membuat sejumlah petani terpaksa keluarkan biaya ekstra.

Wayan Aje, salah satu petani di desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang, Lamsel menyebut, ia mengandalkan sistem pompanisasi dengan menyedot air sungai Kaliasin yang mengalir di wilayah tersebut.

Letak sawah yang lebih tinggi dari sungai membuat ia harus menyediakan mesin penyedot air atau alkon.

Proses penyedotan air disebut Wayan Aje dilakukan saat benih padi (uritan) varietas Ciherang miliknya berusia sekitar sepekan. Penyedotan air menurutnya sangat diperlukan untuk proses menggenangi lahan (mblebek) selanjutnya dilakukan proses pengolahan lahan memakai mesin traktor.

Perhitungan waktu yang tepat membuat ia bisa memulai masa tanam pertama (MT1) saat benih padi miliknya berusia sekitar 20 hari.

Wayan Aje, salah satu petani di desa Sumbernadi, kecamatan Ketapang, menunggu proses penyedotan air dari sungai Kali Asin – Foto: Henk Widi

Proses menyedot air dengan mesin alkon menurut Wayan Aje, membutuhkan waktu sekitar sehari semalam. Lahan seluas satu hektare tersebut sebelumnya sempat ditanam dengan kedelai dan jagung.

Saat tiba musim penghujan ia menyebut, pasokan air belum bisa maksimal sehingga proses penyedotan terpaksa dilakukan. Satu kali proses penyedotan untuk mengairi lahan sawah ia membutuhkan bahan bakar bensin sebanyak 20 liter atau dengan harga Rp9.000 per liter, jadi ia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp180.000.

“Di bagian hulu sungai Kaliasin hujan sudah kerap turun. Bahkan di aliran sungai Way Pisang sudah banjir namun lahan persawahan di kecamatan Ketapang masih kesulitan air, meski sudah memasuki masa tanam pertama,” terang Wayan Aje, salah satu petani di Kecamatan Ketapang, saat ditemui Cendana News, Rabu (20/2/2019).

Selain mengeluarkan biaya untuk bahan bakar mesin alkon penyedot air, ia juga mengaku, membeli bahan bakar untuk mesin traktor. Satu kali proses pengolahan lahan sawah ia menyebut, membutuhkan waktu sekitar tiga hari.

Satu hari proses pengolahan lahan sawah dengan traktor membutuhkan Rp100.000 atau Rp300.000 untuk tiga hari. Saat lahan sawah sudah diolah dan dihaluskan, proses menunggu benih siap tanam. Pengeluaran biaya ekstra dilakukan agar masa tanam berbarengan dengan petani lain di wilayah tersebut.

“Proses penanaman padi secara serentak sekaligus untuk menghindari serangan hama burung serta hama lain,” beber Wayan Sude.

Petani lain di wilayah desa Sumber Nadi, Nyoman Sude menyebut, ada ratusan hektare lahan sawah di wilayah tersebut. Sebagian petani yang memiliki modal lebih, memilih membuat sumur bor untuk sumber pengairan lahan sawah.

Pemilik lahan sawah di dekat aliran sungai Kaliasin seperti dirinya mengaku, memilih menggunakan mesin alkon. Aliran sungai Kaliasin disebutnya saat ini masih cukup untuk pasokan air bagi puluhan hektare lahan sawah di wilayah tersebut.

Nyoman Sude, salah satu petani desa Sumbernadi memanfaatkan mesin pompa air untuk mengairi lahan sawah – Foto: Henk Widi

Nyoman Sude menyebut, proses menyedot air dengan mesin alkon dilakukan dengan sistem bergantian. Mesin yang digunakan merupakan milik Wayan Aje dengan sistem sewa meski bahan bakar ditanggung olehnya.

Ia menyebut, sejumlah petani yang tergabung dalam kelompok tani (Poktan) mendapatkan bantuan berupa alat dan mesin pertanian (Alsintan) berupa traktor, sumur bor. Meski demikian, letak sumur bor yang jauh dari lokasi sawah miliknya membuat ia memilih memanfaatkan aliran sungai Kaliasin.

“Petani yang berada di dekat aliran sungai saat pasokan air kurang, memilih mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli bahan bakar mesin sedot,” beber Nyoman Sude.

Nyoman Sude menyebut, meski hujan mulai turun di wilayah Lampung Selatan, kawasan lahan pertanian di Ketapang belum mendapat pasokan air. Meski demikian ia menyebut, saat puncak musim hujan tiba ratusan petani di wilayah tersebut tetap was-was saat volume air sungai Kaliasin melimpah.

Volume air sungai yang melimpah membuat lahan pertanian sawah berpotensi terendam. Sebagai langkah antisipasi, sebagian petani mulai membuat tanggul penahan di sepanjang bantaran sungai Kaliasin.

Lihat juga...