Kim Sebut Tidak Ingin Anak-anaknya Menanggung Beban Senjata Nuklir
HANOI — Mantan petugas CIA yang terlibat dalam diplomasi tingkat tinggi mengenai persenjataan Korut menyebutkan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, mengatakan kepada Menteri Luar Negeri Amerika Serikat bahwa dia tidak ingin anak-anaknya hidup dengan beban senjata nuklir.
Pernyataan tersebut dikutip pada Sabtu.
Kim membuat pernyataan pribadi yang sangat jarang dilakukannya itu kepada Mike Pompeo yang sedang berkunjung ke ibu kota Korea Utara, Pyongyang pada April tahun lalu yang menjadi dasar pertemuan bersejarah yang pertama antara pemimpin Korut dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Singapura pada Juni, mantan anggota CIA Andrew Kim mengatakan, seperti dikutip Kantor Berita Korea Selatan Yonhap dan Wall Street Journal.
“Saya seorang ayah dan seorang suami, dan saya memiliki anak-anak,” ujar Kim mengutip perkataan Pemimpin Korea Utara itu kepada Pompeo, saat ditanya apakah dia berniat mengakhiri program nuklir.
“Dan saya tidak ingin anak-anak saya menangung beban senjata nuklir sepanjang hayat mereka, itu adalah jawaban dia,” kata Kim dalam suatu kuliah, pada Jumat di Pusat Penelitian Asia-Pasifik, Universitas Standford, ketika menjadi akademisi tamu.
Sebelum pensiun dari CIA, Kim mendirikan Pusat Misi Korea pada April 2017 dan menemani Pompeo — saat itu direktur CIA, ke Pyongyang tahun lalu.
Dalam pertemuan puncak di Singapura, Kim dan Trump berjanji untuk menciptakan perdamaian di antara negara mereka serta untuk penghapusan program senjata nuklir (denuklirisasi) di Semenanjung Korea.
Namun sejak saat itu kemajuan yang dicapai sangat kecil, dan mereka direncanakan bertemu kembali di Hanoi pada Rabu dan Kamis.
Mereka diharapkan memusatkan pada langkah-langkah yang mungkin akan diambill Korea Utara untuk menghadapi denuklirisasi, sebagai imbalan atas konsesi dari AS.
Mantan petugas CIA itu mengatakan Pemimpin Korea Utara memperlihatkan keinginan kuat untuk memperbaiki hubungan dengan AS sebagai jalan untuk membangun kepercayaan di antara mereka, yang menurutnya diperlukan untuk mengakhiri program senjata nuklir.
Pemimpin Korea Utara itu meninggalkan Pyongyang dengan kereta api untuk menuju Vietnam pada Sabtu sore, kantor berita Rusia, TASS melaporkan Sabtu dengan mengutip sumber diplomatik Korea Utara.
Media pemerintah Korea Utara belum membenarkan apakah Kim melawat ke Vietnam atau menghadiri pertemuan puncak dengan Trump. (Ant)