Disparbud Lamsel Terus Kembangkan Pariwisata Berbasis Lingkungan

LAMPUNG – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan  Kabupaten Lampung Selatan, terus melakukan upaya pengembangan destinasi wisata yang sudah ada, dan destinasi baru. Salah satunya dengan konsep pariwisata lingkungan (eco tourism) berbasis mangrove.

Yuda Sukmarina, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamsel, menyebut ada beberapa titik pariwisata berbasis lingkungan yang akan dan sudah dikembangkan.

Menurutnya, ekowisata merupakan kegiatan wisata alam yang bertanggung jawab dengan menjaga keaslian dan kelestarian lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat.

Yuda Sukmarina, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaaan Kabupaten Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

Lokasi yang terus dikembangkan meliputi taman mangrove di Sebalang, Desa Tarahan, Kecamatan Katibung. Lokasi lain di antaranya taman hutan mangrove di Grand Elty Kalianda dan terakhir di Dusun Pegantungan, Desa Bakauheni.

Kawasan pantai Tanjung Tua Pasir Putih Bakauheni juga menjadi lokasi pelestarian mangrove.

Pengelolaan sejumlah destinasi wisata berkonsep lingkungan dengan potensi hutan mangrove pantai, sebut Yuda Sukmarina, melibatkan masyarakat dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Sejak 2012, sebanyak 17 kecamatan yang ada di Lamsel ada telah ada 45 Pokdarwis yang terbentuk dan berizin. Pengelolaan sektor pariwisata mulai dijadikan sebuah potensi pengembangan berbasis inovasi desa, melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).

“Dinas Pariwisata Lamsel melibatkan Dinas Pariwisata Provinsi Lampung, bahkan Kementerian Pariwisata, terus memberikan dukungan pelatihan sapta pesona bagi pokdarwis, balawista atau penjaga pantai serta pemberian bantuan fasilitas untuk kebersihan,” terang Yuda Sukmarina, Minggu (24/2/2019).

Kawasan objek wisata mangrove Sebalang di kecamatan Katibung, di antaranya dikelola oleh Bumdes Tarahan. Sementara kawasan wisata mangrove di desa Merak Belantung, dikelola oleh Grand Elty Kalianda, sebagai komitmen untuk mempertahankan lingkungan pantai.

Mangrove di wilayah Bakauheni tepatnya di Pegantungan, sebutnya, juga akan dikelola oleh masyarakat dalam upaya peningkatan ekonomi bersumber dari sektor pariwisata.

Pengembangan wisata berbasis lingkungan, terutama mangrove lanjut Yuda Sukmarina, memiliki sisi positif.  Pascabencana tsunami pada 22 Desember 2018, keberadaan mangrove bukan saja sebagai destinasi wisata, melainkan sebuah benteng alam.

Benteng alam untuk perkampungan warga dan sarana lain terlihat dari terlindunginya sejumlah rumah warga, dengan keberadaan mangrove tersebut.

Kondisi tersebut membuat sejumlah Pokdarwis dan pegiat wisata terus mengembangkan wisata lingkungan berbasis mangrove. Kepada sejumlah pengelola wisata, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan telah melakukan sejumlah sosialisasi.

Sosialisasi yang kerap dilakukan berupa upaya menciptakan Sapta Pesona, menciptakan wisata yang aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan.

“Perlu dukungan dari sejumlah pihak, agar pengelolaan destinasi wisata tidak hanya mengejar aspek keuntungan, namun wisata berkelanjutan,” beber Yuda Sukmarina.

Wisata berkelanjutan yang dilakukan, sebut Yuda Sukmarina, di antaranya dengan upaya menjaga kawasan wisata dari sampah. Melalui Dinas Pariwisata Provinsi, sejumlah destinasi wisata sudah mendapatkan bantuan alat kebersihan.

Alat kebersihan tersebut, di antaranya berupa sapu, serok sampah, kotak sampah organik dan nonorganik. Fasilitas musola untuk ibadah juga disediakan pada sejumlah objek wisata yang ada di Lamsel.

Syaifuddin Djamilus, Kepala Bidang Pengembangan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamsel, menambahkan, destinasi wisata berbasis lingkungan terutama mangrove, potensial dikembangkan di Lamsel.

Bentang alam yang ada di kabupaten yang memiliki garis pantai cukup panjang tersebut, tersebar di pantai Timur dan Barat. Meski beberapa mangrove dikelola oleh masyarakat, namun beberapa di antaranya belum terkelola dengan baik.

“Masyarakat di sekitar pantai mulai memahami pentingnya mangrove sebagai potensi untuk pariwisata dan dampaknya, berkaitan dengan peningkatan ekonomi,” beber Syaifuddin Djamilus.

Syaifuddin Djamilus juga menyebut, upaya menciptakan destinasi wisata baru berbasis lingkungan terus melibatkan masyarakat melalui Pokdarwis dan Bumdes. Potensi wisata saat ini menjadi sebuah sarana untuk meningkatkan ekonomi, melalui program pengembangan inovasi desa (TPID).

Potensi kawasan mangrove yang membentang di pantai Timur dan Barat, sebutnya, sebagian sudah dikembangkan sebagai objek wisata menarik.

Di wilayah Pegantungan yang merupakan ekosistem mangrove, menjadi salah satu contoh masyarakat menjaga kawasan pantai. Keberadaan hutan mangrove yang dikelola sebagai kawasan wisata, diharapkan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat.

Sebab, beberapa jenis mangrove yang tumbuh bisa dimanfaatkan untuk pembuatan pewarna serta berbagai jenis kuliner untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

“Menjaga mangrove, sekaligus upaya menjaga pantai dari abrasi akibat gelombang dan angin laut selain potensi wisata,” pungkasnya.

 

 

Lihat juga...