Warga Lamsel Dulang Rupiah Saat Musim Durian
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Ratusan penjual buah durian berjejer di sepanjang Jalan Lintas Sumatera dari Kecamatan Katibung hingga Bakauheni, Lampung Selatan. Puncak musim panen dimanfaatkan oleh masyarakat untuk beralih profesi sebagai pedagang.
Suwarna, salah satu warga desa Pasuruan, kecamatan Penengahan, sehari hari bekerja sebagai petani jagung dan pemilik kebun pisang. Peluang usaha tersebut diambil untuk mengisi kekosongan waktu sekaligus keuntungan menjanjikan.
Sebelumnya ia harus berkeliling ke sejumlah kecamatan dan desa mencari warga pemilik kebun. Salah satu sentra yang didapatinya berada di desa Tanjung Heran, kecamatan Penengahan. Sesuai kesepakatan dengan pemilik kebun sistem tebas atau borongan per pohon dilakukan.
“Saya meminjam sebagian modal dari salah satu saudara karena membutuhkan biaya operasional kendaraan hingga proses memetik. Terutama modal awal untuk memborong semua pohon durian dari pemilik,” terang Suwarna saat ditemui Cendana News, Selasa (8/1/2018).

Suwarna menyebut pada musim tahun ini, produktivitas buah tidak selebat tahun sebelumnya. Perbandingan harga borongan untuk sebanyak 70 batang pada lahan seluas 4 hektare, sebelumnya Rp9 juta. Pada musim tahun ini diborong seharga Rp7 juta. Kuantitas buah per pohon menjadi estimasi dalam penentuan kesepakatan.
Pada tahun lalu ia menyebut membutuhkan modal sekitar Rp11juta. Modal tersebut dari pemborongan buah durian serta seluruh biaya operasional.
Meski membutuhkan modal cukup besar ia masih bisa memperoleh omzet sekitar Rp18 juta. Dikurangi dengan biaya operasional, modal awal ia masih bisa mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp5 juta.
Pada pemetikan tahap pertama, Suwarna menyebut sudah memetik sekitar 500 buah jenis mentega dan keong. Ukuran kecil dijual per gandeng Rp40.000, ukuran sedang Rp50.000 dan ukuran besar bisa mencapai Rp100.000.
“Harga kerap bisa berubah sesuai dengan tingkat kemanisan buah serta ukuran dan proses tawar menawar,” terangnya.
Salah satu pedagang lainnya, Sumino, warga desa Banjarmasin mengaku berprofesi sebagai tukang ojek. Saat musim durian ia mencoba peruntungan menjual di tepi Jalan Lintas Sumatera. Sehari ia bisa menjual 30 hingga 50 gandeng dengan harga bervariasi, mulai Rp30.000 hingga Rp60.000.
“Kesempatan berjualan hanya waktu tertentu. Kalau usaha tukang ojek masih bisa saya jalankan setelahnya,” terang Sumino.
Sehari Sumino menyebut bisa mendapatkan hasil sekitar ratusan ribu. Selain dari pemilik kebun, ia juga kerap membeli dari anak anak pencari durian jatuhan dengan sistem nngudokh atau menunggu buah jatuh.
Omzet hampir lebih dari Rp2juta lebih dalam kurun waktu beberapa pekan disebutnya sangat menguntungkan. Ia bahkan memprediksi memasuki pertengahan Januari sudah sangat sulit mencari durian. Seiring berakhirnya musim dan ia akan kembali menekuni pekerjaan sebagai tukang ojek.