Pascatsunami Selat Sunda, Bantuan ke Lampung Selatan Masih Mengalir

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Berbagai bantuan untuk korban tsunami di Kabupaten Lampung Selatan hingga Sabtu (19/1/2019), masih terus mengalir.

Terbaru, Bupati Mesuji, Khamami, datang bersama rombongan mengunjungi Lamsel, untuk memberikan dukungan bagi korban bencana tsunami Selat Sunda. Bupati Khamami menyempatkan mengunjungi puluhan anak pengungsi yang tinggal di tenda pengungsian yang ada di area SMAN 1 Rajabasa. Di posko pengungsian, Khamami menghibur anak-anak pengungsi dari tingkat SD hingga SMA. Anak-anak diberi sejumlah pertanyaan, dan yang bisa menjawab diberi hadiah uang.

Pertanyaan seperti, nama-nama Kabupaten dan Kota di Lampung, nama presiden, nama bupati, hingga nama-nama ikan juga dilontarkan kepada para siswa. Bagi yang berhasil menjawab pertanyaan, langsung menerima uang tunai mulai Rp250.000, Rp100.000 dan sebagian diberi uang Rp50.000.

“Kami atas nama masyarakat dan Pemkab Mesuji ikut prihatin dengan musibah yang melanda, bantuan kami salurkan melalui pemerintah Lampung Selatan agar disalurkan kepada warga yang benar-benar berhak, sehingga bisa melanjutkan kehidupan dengan normal kembali,” terang Khamami, saat mengunjungi posko pengungsian korban tsunami di Desa Kunjir, Sabtu (19/1/2019).

Khamami menyebut, sebelum mengunjungi pengungsi, Pemkab Mesuji telah membantu korban bencana Tsunami di Pos Logistik Aula Rumah Dinas Bupati Lampung Selatan. Khamami yang datang bersama Wakil Bupati, Saply dan jajaran, menyerahkan bantuan dana hibah Rp200 juta. Selain uang, juga dibawa bantuan barang berupa 300 Alquran, 300 tabung gas melon, 300 peralatan memasak, 300 kasur, 300 bantal, 300 guling. Seluruh barang tersebut, bila dinilai uang sebesar Rp746 juta. “Selain dari Pemerintah Kabupaten kami juga menyampaikan amanah bantuan dari masyarakat Mesuji, agar bisa digunakan untuk warga terdampak tsunami,” tambah khamami.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Lamsel, Nanang Ermanto, mengapresiasi bantuan dari masyarakat dan Pemkab Mesuji. Dengan bantuan tersebut, warga Lampung Selatan disebutnya, bisa kembali bangkit kembali. Nanang menyebut, proses penanganan korban tsunami masih terus dilakukan. Saat ini pemerintah sedang memproses pembuatan Hunian Sementara (huntara) di sejumlah desa pesisir Rajabasa.

Warga Desa Kunjir kecamatan Rajabasa Lampung Selatan membangun tempat ronda sekaligus warung kopi untuk tempat berkumpul – Foto Henk Widi

Masa tanggap darurat kedua, yang berlangsung sejak Minggu (6/1/2019) hingga Sabtu (19/1/2019), telah berakhir. Sejumlah warga mulai secara swadaya melakukan perbaikan rumah. Marjuki, salah satu warga Dusun Merak Kunjir menyebut, bersama belasan warga lain bergotong-royong membangun pos ronda, berbahan bambu dan terpal. Pos tersebut, sekaligus menjadi lokasi warung kopi, serta lokasi berkumpul warga saat malam hari.

Usai tsunami, kawasan tersebut dirasakan sepi seperti kota mati. “Selain ingin menghidupkan suasana di desa kami pos ronda yang kami buat untuk menjaga keamanan wilayah saat malam hari,” beber Marjuki.

Akibat tsunami, sekira 45 kepala Keluarga (KK) warga Kunjir tinggal di pengungsian area SMAN 1 Rajabasa. Warga menunggu pembuatan huntara selesai. Hingga masa tanggap darurat kedua berakhir, warga Desa Kunjir belum mendapatkan huntara. Sebagian warga bahkan memilih tinggal di rumah kerabat akibat rumah yang dimiliki rusak berat rata dengan tanah.

Lihat juga...