Modal Bambu, Suprapto Pasarkan Kerajinan hingga Luar Negeri

Editor: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Siapa sangka, hanya hanya bermodal bambu yang diukir dan dibentuk sederhana, seorang lelaki asal Yogyakarta ini mampu menjual kerajinan buatannya hingga ke luar negeri seperti Malaysia.

Dialah Ameng Suprapto (55) warga Jalan Gajahmada, Gang Sidat, Jagalan Beji, Purwokinanti, Pakualaman, Yogyakarta.

Memulai usaha kerajinan sejak 1997 lalu, Ameng membuat berbagai macam jenis kerajinan berbahan dasar bambu seperti celengan, jam meja, kap lampu, nampan, dan sebagainya. Selain berfungsi sebagaimana aslinya, produk kerajinan buatannya juga kerap digunakan sebagai oleh-oleh khas, suvenir hingga hiasan unik.

Dibantu sejumlah pekerja, dalam sebulan, Suprapto mengaku mampu menjual ratusan bahkan ribuan jenis kerajinan. Selain dijual sebagai oleh-oleh khas di Pasar Beringharjo dan Malioboro, sejumlah kerajinan itu biasanya juga dikirim ke berbagai daerah di Indonesia mulai dari Surabaya, Kalimantan, Lampung, Batam, hingga ke Sabah dan Sarawak Malaysia.

“Saya memasarkan produk kerajinan baik secara offline maupun online. Untuk promosi biasanya dilakukan dengan ikut pameran-pameran. Kadang sampai ke Jakarta dan Bandung. Selain itu pemasaran juga saya lakukan lewat internet atau secara online,” ujarnya kepada Cendana News, Selasa (15/1/2019).

Ada dua jenis kerajinan bambu yang dibuat Suprapto, yakni kerajinan bambu yang diukir serta bambu yang dibatik. Biasanya ia menggunakan bahan baku bambu Wulung untuk jenis ukir dan bambu Legi untuk jenis batik. Bahan baku  ia datangkan dari sejumlah daerah seperti Purworejo dan Magelang.

“Proses pembuatan kerajinan ini ada dua tahap. Pertama pengeringan bambu hingga siap diproses. Dan selanjutnya pembuatan bambu kering hingga finishing. Khusus untuk pengukiran saya kerjasama dengan pengukir asal Borobudur. Karena jika harus ukir sendiri kita tidak mampu,” ujarnya.

Mematok harga produk kerajinan mulai dari Rp6.000 hingga Rp35.000 per buah, Suprapto menyebut salah satu kendala usahanya adalah lamanya proses pengeringan bambu. Saat musim hujan seperti ini, biasanya bambu menjadi mudah lembab sehingga butuh waktu lebih lama untuk proses pengerjaan.

“Kalau biasanya pengeringan hanya butuh 2 minggu, saat musim hujan seperti ini paling tidak butuh waktu hingga 20 hari. Itu karena bambu mudah lembab. Padahal proses pembuatan kerajinan ini butuh bambu yang benar-benar kering. Karena menggunakan bahan-bahan yang tidak tahan air,” jelasnya.

Lihat juga...