Atasi Hama Burung, Petani di Sleman Andalkan Cara Tradisional
Editor: Satmoko Budi Santoso
YOGYAKARTA – Burung pemakan biji-bijian seperti pipit maupun gereja masih menjadi salah satu momok hama bagi para petani di kawasan Prambanan Sleman.
Di musim panen seperti sekarang, para petani pun melakukan berbagai cara agar burung-burung itu tidak menghabiskan hasil panen mereka.
Petani yang memiliki modal cukup besar, biasanya memasang jaring penghalau di atas areal persawahan mereka. Pemakaian jaring ini cukup ampuh karena mampu melindungi padi yang mulai menguning dari serangan burung.
Sayangnya harga jaring terbilang cukup mahal, apalagi para petani harus menutup rapat lahan mereka yang biasanya mencapai ratusan hingga ribuan meter.
Sementara itu, petani lainnya biasa menggunakan cara tradisional untuk mengusir hama burung. Yakni dengan memasang orang-orangan sawah serta bunyi-bunyian dari kaleng bekas di tengah-tengah areal lahan persawahan mereka.
Para petani kemudian akan menarik bunyi-bunyian itu dari tepi pematang agar burung-burung itu pergi.
Salah seorang petani asal Dusun Sembir, Madurejo, Prambanan, Sleman, Mbah Jum (62) mengaku, memilih menggunakan cara tradisional untuk mengatasi serangan hama burung.
Cara tradisional dipilih karena lebih murah dari sisi biaya. Meski pun ia harus secara rutin menunggu tanaman padi secara bergantian dengan suami, sejak pagi hingga sore hari.
“Kalau sudah mulai kuning, harus dijaga. Karena kalau tidak bisa habis dimakan burung. Apalagi sekarang ini sedang banyak burung di kawasan ini,” ujarnya saat ditemui di areal persawahan bulak Lor Tandan, Sorogedug, Madurejo, Prambanan Sleman.
Menurut Mbah Jum, serangan hama burung bisa mengurangi hasil panen cukup signifikan. Menanam padi di lahan seluas kurang lebih 900 meter ia biasanya mampu menghasilkan gabah hingga 2,5 kuintal. Namun jika ada serangan hama burung, hasil panen bisa menyusut hingga mencapai 2 kuintal.
“Biasanya hama burung ini hanya menyerang saat musim kemarau saja. Tapi anehnya sekarang ini walaupun musim hujan juga banyak burung datang. Apalagi usia padi milik saya ini termasuk paling tua, sehingga jadi incaran burung-burung,” katanya.