Kawasan Dagang Terdampak Tsunami di Kalianda, Masih Lumpuh
Editor: Makmun Hidayat
LAMPUNG — Sejumlah pemilik usaha kuliner, pemilik kios souvenir, pedagang ikan di pasar ikan higienis Kalianda dan sejumlah nelayan bagan congkel tidak beraktivitas. Sepuluh hari pasca-tsunami melanda wilayah sekitar belasan meter tersebut, belum beroperasi.

Sejumlah kios kuliner terlihat masih dibiarkan berantakan belum diperbaiki. Rahayu (40) salah pedagang mie ayam bakso di pusat wisata kuliner mengaku pada saat kejadian tsunami Sabtu (22/12) malam sedang tidak berjualan.
Pasca kejadian tsunami menghantam wilayah tersebut hingga ke jalan pesisir setinggi dada orang dewasa, seluruh kawasan wisata kuliner ditutup. Portal serta garis polisi (police line) langsung dipasang mengindari penjarahan.
Rahayu bahkan menyebut sejumlah pedagang kehilangan alat usaha seperti kompor gas,barang dagangan. Saat kejadian ia mengaku telah menutup warungnya sehingga ia selamat meski kios diterjang tsunami.
“Saya baru bisa berdagang setelah hari keenam pasca-tsunami meski kawasan wisata kuliner masih ditutup dengan portal serta sejumlah pedagang belum berani berjualan khawatir akan adanya tsunami susulan,” terang Rahayu salah satu pedagang mie ayam bakso di pusat wisata kuliner dermaga bom Kalianda, Selasa (1/1/2019).
Rahayu juga menyebut seperti pada tahun sebelumnya momen pergantian tahun kerap dijadikan kesempatan untuk mendapat omzet besar. Pada pergantian tahun 2017 ke 2018 ia menyebut bisa mengantongi hasil penjualan mie ayam mencapai Rp1juta lebih.
Pada tahun ini sejak sore pada malam pergantian tahun lokasi wisata kuliner dermaga bom Kalianda sudah diportal dengan bambu. Pintu masuk bahkan dijaga oleh petugas keamanan dan warga agar tidak dilakukan kegiatan saat malam tahun baru.
Pada malam pergantian tahun dan awal tahun, meski sudah berdagang, Rahayu mengaku hanya mendapatkan omzet ratusan ribu. Pembeli bahkan disebutnya hanya sejumlah warga asal wilayah Kalianda yang ingin melihat kondisi terkini wilayah pesisir pantai.
Meski omzet menurun drastis ia menyebut beruntung tempat usaha miliknya tidak rusak. Sejumlah kios kuliner bahkan mengalami kerusakan parah akibat terjangan tsunami.

Pedagang lain bernama Suryati (34) di lokasi yang sama juga menyebut usaha kecil di wilayah tersebut lumpuh pasca-tsunami. Suryati yang mengandalkan berjualan saat hari libur dengan banyaknya kunjungan wisatawan ke pusat wisata kuliner Kalianda.
Ia kerap mampu menghasilkan uang berkisar Rp800ribu perhari, bahkan hanya mampu menghasilkan hanya Rp100ribu perhari.
Liburan akhir tahun dan awal tahun di pusat wisata kuliner biasanya diadakan acara pertunjukan musik serta hiburan. “Tahun ini ada surat edaran dari pemerintah agar tidak ada kegiatan yang bersifat hiburan dan hanya diisi doa bersama menghormati kondisi musibah membuat pusat wisata kuliner sepi,” beber Suryati.
Selain bagi pemilik usaha kecil kuliner dan kios, pasar ikan higienis Kalianda terlihat belum beroperasi. Pada kondisi normal pedagang di lokasi tersebut berjumlah sekitar 30 hingga 40 orang.
Wati (41) pemilik usaha penjualan ikan menyebut pada kondisi normal menyediakan sekitar 100 kilogram ikan laut. Kebutuhan ikan untuk malam pergantian tahun dan tahun baru ia bahkan pernah menyediakan 400 kilogram. Akhir tahun 2018 dan awal tahun 2019 stok ikan sekitar 50 kilogram bahkan hanya terjual 20 kilogram.
Harga ikan disebutnya tidak mengalami kenaikan meski sejumlah pedagang berhenti berjualan. Wati menyebut pasokan ikan didapat dari pantai Timur wilayah Labuhan Maringgai karena nelayan Kalianda mengalami kerusakan kapal sehingga belum bisa beroperasi.
Kondisi tersebut membuat pemilik usaha penjualan ikan kekurangan pasokan ikan. Sejumlah ikan yang dijual diakuinya hanya beberapa jenis meski kondisi normal ia bisa menjual lebih banyak jenis ikan.
Sejumlah ikan yang dijual diantaranya ikan Kurisi Rp22.000, ikan tongkol Rp24.000, kembung Rp27.000, ikan bandeng Rp30.000. Ikan jenis simba Rp45.000, ikan selar Rp35.000, cumi cumi Rp60.000 perkilogram. Pemilik usaha penjualan ikan disebutnya hanya menaikkan harga ikan berkisar Rp5.000 hingga Rp10.000 perkilogram.
Wati menyebut belum bisa memprediksi kapan sektor usaha perikanan di wilayah tersebut pulih karena masih ada puluhan perahu tenggelam di dermaga Bom.