MALANG – Para nelayan di kawasan selatan Malang, yakni di pesisir Pantai Sendangbiru, Kabupaten Malang, hingga kini masih enggan melaut karena cuaca buruk.
Salah seorang pemilik kapal di Pantai Sendangbiru Kabupaten Malang, Sudarsono, Rabu, mengaku sudah lebih dari sepekan terakhir, para nelayan memilih tidak melaut karena selain gelombang tinggi, juga diiringi angin kencang.
“Mereka tidak berani melaut karena gelombang tinggi dan anginnya kencang. Untuk mengisi kekosongan waktu karena tidak melaut, nelayan melakukan perbaikan kapal dan jaring. Namun, ada juga yang bertani atau menjadi buruh,” kata Sudarsono.
Jika melihat kondisi angin kencang dan gelombang tinggi, lanjut Sudarsono, biasanya terjadi hingga bulan Februari bahkan bisa sampai Maret.
“Ini merupakan siklus tahunan, setiap Januari selalu begini. Kami menyebutnya sebagai musim barat,” tuturnya.
Sementara itu, seorang nelayan Sendangbiru lainnya, Wagimin, mengatakan, saat ini banyak nelayan yang masih menambatkan perahu atau kapal dan tidak melaut selama beberapa pekan terakhir karena cuaca buruk dan gelombang tinggi.
“Dua kapal saya masih diperbaiki mumpung di darat,” kata Wagimin.
Akibat banyaknya nelayan yang tidak melaut tersebut, katanya, produksi (hasil tangkapan) ikan nelayan yang dilelang di TPI juga menurun drastis, apalagi sekarang banyak nelayan yang memilih langsung membawa hasil tangkapannya ke Muncar, Banyuwangi, ketimbang ke TPI Sendangbiru.
Sebab, lanjutnya, kalau dibawa ke Muncar, nelayan bisa langsung menjual ke pedagang bukan ke tengkulak. Sementara di TPI Sendangbiru, nelayan menjual di TPI melalui proses lelang, baru dibawa ke TPI lama dan dijual kepada pedagang.
Menurut Wagimin, kemungkinan akhir Februari 2019, nelayan baru memulai melaut karena cuaca sudah mulai membaik dan gelombang mulai surut.
“Kemungkinan kami baru mulai melaut pada akhir Februari nanti, selain cuaca sudah membaik, kapal-kapal yang diperbaiki juga sudah selesai dan siap dipergunakan,” ujarnya.
Untuk melaut selama 7-10 hari, nelayan membutuhkan biaya operasional sekitar Rp12 juta hingga Rp13 juta.
Sementara itu, Forecaster on Duty Andy Hermanto menjelaskan, berdasarkan perkiraan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak, Surabaya, sebagian besar wilayah perairan Jawa Timur diprediksi ketinggian gelombang hingga enam meter.
Gelombang tinggi hingga enam meter ini terjadi di Laut Jawa bagian timur. Kisarannya antara 2,5 meter hingga enam meter.
Untuk di Selat Madura ketinggian gelombang bekisar antara satu hingga 2,5 meter. Sedangkan di Samudera Hindia selatan Jawa Timur berkisar antara dua hingga lima meter. Sedangkan gelombang laut mencapai empat di perairan Masalembu dan Bawean.
“Waspadai ketinggian gelombang bisa mencapai enam meter di Laut Jawa bagian timur dan perairan Kangean. Gelombang mencapai lima meter di perairan utara dan selatan Jatim dan Samudera Hindia selatan Jatim,” tuturnya.
Potensi tangkapan ikan di pesisir pantai selatan Malang lebih dari 400.000 ton per tahun, namun sampai saat ini produksi tangkapan nelayan masih jauh dari potensi yang ada, yakni baru mencapai 12.000 hingga 13.000 ton per tahun.
Jenis ikan hasil tangkapan nelayan di Kabupaten Malang di antaranya adalah baby tuna, cakalang, dorang, kerapu, kakap merah, lobster dan udang. (Ant)