Warga Kukar Teraliri Listrik Pembangkit dari Limbah Sawit

Ilustrasi -Dok: CDN

BALIKPAPAN — Sekitar 73 ribu penduduk di tiga kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, sejak 2015 menikmati listrik yang dibangkitkan dari limbah cair kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent atau POME).

“Jadi tidak lagi menggunakan pembangkit diesel,” kata Manajer Biogas PT REA Kaltim Plantation, Takbir di Balikpapan, Kamis (15/11/2018).

Takbir berbicara di depan hadirin lokakarya Potensi dan Prospek Pengembangan Bio Energi Berbasis Limbah Minyak Sawit di Kalimantan Timur di Hotel Le Grandeur Jalan Jenderal Sudirman.

Sebelumnya baik pabrik, perumahan karyawan, maupun perkampungan penduduk mendapat pasokan listrik selama 12 jam per hari dari mesin-mesin diesel yang sebagian bahan bakarnya solar dari perusahaan juga.

Menurut Takbir, karyawannya sendiri hampir 8.000 orang ditambah keluarga mereka, lalu ada pelanggan PLN sebanyak 6.671 dari Kecamatan Kembang Janggut, Kenohan, dan Tabang.

Pada 2015, PT REA Kaltim meneken perjanjian jual beli listrik dengan PT PLN selaku perusahaan negara yang memiliki hak menyalurkan listrik kepada masyarakat. PT REA Kaltim menjual 3 mega watt (MW) kelebihan produksi listriknya yang tidak terpakai.

Menurut Takbir, perusahaannya saat ini memproduksi 7 MW listrik dengan 2 pembangkit, yaitu 4 MW oleh pembangkit Cakra dan 3 MW oleh pembangkit Perdana. Sebanyak 4 MW listrik digunakan untuk pabrik, kantor, dan perumahan karyawan.

“Yang ke PLN baru terpakai 2 MW. Kami lihat kawan-kawan PLN terus meluaskan jaringan di sana,” lanjut Takbir.

Kecamatan Kembang Janggut berjarak 150 Km dari ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara, Tenggarong. Kota Tenggarong sendiri jauhnya 150 Km barat laut Balikpapan. Perlu waktu 5 jam untuk mencapai Tabang dari Tenggarong melewati jalan kabupaten dan jalan-jalan perusahaan kelapa sawit.

Bisa juga ditempuh lewat Sungai Mahakam dan makan waktu tak kurang dari 8 jam dengan speedboat. Perkebunan kelapa sawit REA Kaltim memiliki konsesi seluas 120.000 hektare di Kembang Janggut. Dari luasan itu didapat 2.800 ton tandan buah segar per hari yang berasal dari 1.600 ton dari Kebun Cakra dan 1.200 ton dari Kebun Perdana.

Takbir merincikan, olahan buah sebanyak 2.800 ton itu menghasilkan 80 ton limbah cair per jam atau POME tadi. POME lalu dikumpulkan di penampungan khusus untuk diambil gasnya.

“Dengan jumlah yang sangat besar, dan kemudian dimampatkan, maka gas dari POME itu sanggup memutar bilah-bilah turbin untuk kemudian membangkitkan listrik,” demikian Takbir.

Sebelumnya, perusahaan menginvestasikan hingga Rp50 miliar untuk satu unit pembangkit. (Ant)

Lihat juga...