MADIUN – Sejumlah warga di RW 11, Kelurahan Mojorejo, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur, yang tergabung dalam paguyuban petani lele “Srimino”, berhasil membudidayakan ikan tersebut dengan sistem bioflok.
Ketua RT setempat Laminto, mengatakan, budi daya ikan lele dengan kolam bundar bersistem bioflok sangat cocok diterapkan di wilayah perkotaan, seperti Madiun yang minim lahan.
“Selain itu, masa panen juga lebih cepat dengan sistem bioflok. Serta menghemat biaya operasional, karena minim pemberian pakan,” ujar Laminto, Rabu (14/11/2018).
Menurut dia, dari satu kolam yang dikelola bersama, warga di lingkungan setempat bisa meraup untung hingga ratusan ribu rupiah. Hal itu masih ditambah dengan bonus mengonsumsi ikan lele setiap hari.
Warga biasa memanen lele setiap tiga bulan sekali. Masa panennya lebih cepat, karena pakan lele terbantu dengan keberadaan mikro organisme yang terbentuk dari sistem bioflok.
Mikro organisme yang menjadi makanan alami ikan itu sengaja dibiarkan berkembang di dalam kolam, sehingga lebih hemat.
Untuk biaya pembuatan kolam bundar, benih, dan pakan sistem bioflok membutuhkan biaya sekitar Rp750 ribu. Sedangkan harga jual saat panen bisa mencapai Rp1,5 juta hingga Rp2 juta. Hal itu masih ada untung lain, yakni sebagian lele yang dikonsumsi pribadi.
Ada pun sistem bioflok dilakukan tidak langsung memasukkan benih ikan ke dalam kolam. Namun, membiarkan mikro organisme berkembang terlebih dahulu.
Lalu, air kolam diisi dengan probiotik atau bakteri patogen, dan pakannya seperti tetes tebu dan dolomit.
Lurah Mojorejo, Basuki, menambahkan, pembudidayaan ikan lele tersebut awalnya bertujuan untuk pemenuhan gizi warganya. Saat itu, konsumsi ikan warga setempat sangat kurang.
“Kemudian warga sepakat membudidayakan lele, agar masyarakat tidak perlu membeli. Namun hal itu terkendala lahan, yang akhirnya mendapat pelatihan dari Balai Benih Ikan (BBI) Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Madiun,” katanya.
Kini seiring dengan waktu, warga Kelurahan Mojorejo tidak hanya menjual dalam bentuk ikan segar. Namun juga telah mengemasnya dalam bentuk pepes, nugget, botok, garang asem, hingga mangut.
“Kondisi tersebut turut mendongkrak perekonomian warga pengelolanya. Prinsipnya, dari masyarakat, dikelola masyarakat, dan dimanfaatkan untuk masyarakat,” kata Basuki. (Ant)