Tiga Laboratorium Kampus di Indonesia, Terhubung Lewat Cloud

YOGYAKARTA – Tiga laboratorium kampus terbaik di Indonesia, UGM, UI dan ITB, kini terhubung secara canggih via awan atau cloud. Hal itu dilakukan dengan penerapan teknologi simulasi canggih, dengan kemampuan Augmented Reality dan Virtual reality (AR/VR). 

Keberadaan fasilitas laboratorium yang terhubung di Indonesia tersebut, memungkinkan para peneliti dari ketiga kampus, melakukan kolaborasi riset. Hal itu dapat membantu kepentingan dan kemajuan bersama ketiga kampus. Teknologi tersebut, melengkapi keberadaan laboratorium teknologi di UI, untuk bidang teknologi automatisasi gedung, serta bidang processing solution penyulingan minyak bumi yang ada di ITB.

Peresmian laboratorium terhubung pertama di Indonesia tersebut, dilakukan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Muhamad Nasir, di Fakultas Teknik UGM. Laboratorium tersebut, hasil kerja sama UGM dengan salah satu perusahaan teknologi terkemuka dari Amerika Serikat Honeywell.

Manager Honeywell Building Solutions, Yustinus Sigit, mengatakan, laboratorium tersebut, dilengkapi dengan teknologi awan (cloud), berupa perangkat experion PKS Orion. Serta perangkat AR dan VR, untuk mempelajari beragam aktivitas industri yang rumit, melalui proses simulasi serta pengendalian perangkat dan alat dalam situasi berisiko tinggi.

“Teknologi simulasi yang ada di UGM, memungkinkan bagi peneliti dari ketiga kampus, untuk menggunakan fasilitas laboratorium ini secara bersama. Tujuannya, agar ketiga kampus dapat berkolaborasi mengembangkan pengetahuan para calon insinyur masa depan Indonesia,” tandasnya.

Menristek berharap, laboratorium yang terhubung dengan kemampuan teknologi simulasi tersebut, dapat dimanfaatkan dengan baik oleh warga kampus. Dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran, dan karya inovasi teknologi yang dihasilkan kampus.   “Sebuah universitas akan mati apabila tidak melakukan inovasi. Sebab jumlah penduduk dan sumber daya yang besar tidak menjamin kita sebagai negara pemenang, jika tidak memiliki inovasi,” tandasnya.

Untuk meningkatkan jumlah riset yang inovatif dan tepat guna, menristek mengklaim, mendorong perguruan tinggi untuk melakukan hilirisasi riset. Serta mempertimbangkan kebijakan menggabungkan beberapa perguruan tinggi, agar terjadi optimalisasi. “Jumlah perguruan tinggi kita itu ada 4600-an, dua kali lipat dari Cina yang hanya 2.284, dengan penduduk lebih dari 2 miliar,” tandasnya.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan Pengajaran dan Kemahasiswaan UGM, Prof. Dr. Ir. Djagal Wiseso Marseno, menyambut baik diresmikannya laboratorium simulasi canggih, yang terkoneksi dengan laboratorium di kampus UI dan ITB. Diharapan, keberadaan laboratoium tersebut, bisa menarik mahasiswa untuk mempelajari teknologi simulasi di dunia industri.

Lihat juga...