Populasi Macan Tutul di TNMB Jember, Berkembang

Editor: Satmoko Budi Santoso

JEMBER – Kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) di Kabupaten Jember terdapat sejumlah satwa langka yang dilindungi.

Salah satunya macan tutul yang keberadaannya sempat dinyatakan punah. Untuk memantau keberadaan predator yang berada di puncak rantai makanan ini, pihak TNMB menggunakan role model monitoring karnivora besar, dengan kamera atau video trap.

“Hasilnya, cukup menggembirakan karena populasi macan tutul dilaporkan meningkat,” kata Kepala Balai TNMB Jember, Khalid Indarto, kepada Cendana News, Rabu (28/11/2018).

Khalid juga menjelaskan, untuk mengetahui keberadaan macan tutul, pihaknya memang mengumpulkan data-data. Salah satunya dengan mencari jejak macan tutul. Sehingga dapat mengetahui perkembangan populasi satwa langka yang konon menjadi raja penjaga hutan tanah Jawa ini.

“Dari pemasangan kamera trap sebanyak 84 buah di tahun 2017, ditambah menjadi 60 buah di tahun 2018, ternyata masih ditemukan jejak macan tutul atau yang akrab disebut warga lokal dengan macan kumbang,” jelasnya.

Dengan indikator tersebut membuktikan, populasi macan tutul di TNMB masih ada. Bahkan juga ditemukan jejak anak-anak macan tutul yang mengindikasikan adanya regenerasi satwa ini.

Untuk peningkatan jumlah populasi, pihak TNMB Jember secara eksplisit memang tidak dapat menyebutkan angka pasti. Karena di awal Desember ini, baru akan melakukan akumulasi data-data yang didapat.

“Untuk mengetahui apakah benar ada peningkatan dibanding tahun sebelumnya,” ujarnya.

Salah satu penyebab utama rusaknya bentang alam adalah eksploitasi penambangan yang dilakukan di kawasan hutan lindung yang menjadi tempat berlindungnya satwa langka. Secara prinsip, lanjut Khalid, pihaknya kurang setuju adanya kegiatan pertambangan. Khususnya yang bersinggungan langsung dengan kawasan konservasi. Hal tersebut dikarenakan dapat mengubah bentang alam.

“Baik digali atau dibongkar permukaan tanah akan hilang. Sedangkan apabila di bawah permukaan tanah tentu akan menimbulkan erosi. Selain itu, kualitas air dipastikan juga akan berubah,” tegasnya.

Administratur Perum Perhutani KPH Jember Achmad Basuki. Foto: Kusbandono.

Administratur Perum Perhutani KPH Jember, Achmad Basuki, secara terpisah menjelaskan, terkait ekspolitasi di kawasan konservasi, pihaknya pasti akan memberikan pertimbangan teknis. Banyak pihak akan terlibat untuk melakukan kajian.

Mulai dari aspek sosial, ekonomi, hingga lingkungan. Setelah itu baru pihaknya akan menyampaikan ke Kementerian Kehutanan apakah direkomendasikan atau tidak.

“Selain itu, juga akan dilihat respon masyarakat, apakah menolak ataukah sebaliknya,” kata Basuki.

Lihat juga...