Perubahan Cuaca Paksa Pembudidaya Udang Vaname di Lamsel Panen Dini

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Perubahan cuaca dengan dominasi panas dan diselingi hujan berimbas pada sejumlah pembudidaya udang dengan tambak intensif skala kecil. Mereka terpaksa melakukan panen dini untuk menghindari kerugian akibat kematian setelah proses pergantian kulit (molting).

Mulyono (50), salah satu pemilik tambak di Desa Sidodadi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan menyebutkan, ia terpaksa melakukan panen saat usia baru 58 hari, untuk menghindari kerugian.

Pada kondisi normal, ia menyebut, udang vaname baru bisa dipanen saat berumur 90 hingga 120 hari atau sekitar tiga bulan. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan jaring sekaligus melakukan proses pengurasan mempergunakan mesin pompa. 

“Banyak udang vaname yang mengalami proses molting atau pergantian kulit namun bersamaan dengan cuaca panas sehingga banyak yang mati dan berwarna kuning tidak bisa diselamatkan,” beber Mulyono saat ditemui Cendana News, Rabu (21/11/2018).

Pada panen dini bulan ini, harga udang vaname yang dijual hanya Rp58.000 per kilogram. Harga tersebut terbilang kecil dibandingkan panen sebelumnya yang mencapai Rp70.000.

Harga saat ini hanya Rp58.000 dengan hasil panen sebanyak 200 kilogram dan memperoleh hasil Rp11.6juta. Padahal dengan harga sama saat panen normal menghasilkan 5 kuintal dan bisa memperoleh omzet Rp29juta.

“Kondisi cuaca memang sedang tidak menentu berimbas pada perkembangan udang yang dibudidayakan sementara sistem tambak kita masih skala mini intensif,” cetus Mulyono.

Udang vaname dipanen dini hindari kerugian akibat perubahan cuaca. Foto: Henk Widi

Salah satu penjual es balok, Herman menyebut selama musim panen udang vaname dini permintaan es meningkat. Sekali pengiriman ia menyediakan sekitar 100 balok es.

“Permintaan es balok dibanding hari normal lebih banyak karena sejumlah petambak memilih panen dini,” beber Herman.

Es balok yang dipesan oleh pemilik tambak terlebih dahulu digiling menggunakan mesin khusus untuk memudahkan pengangkutan. Semenjak sejumlah petambak melakukan panen dini, Herman menyebut es balok yang dijual kerap habis dalam waktu dua hari. Padahal sebelumnya es balok yang disiapkan olehnya habis dalam kurun waktu 4 hari.

Lihat juga...