YGPL Sukses Jadikan Lingkungan Perumahan Berkualitas
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
BEKASI — Berawal dari inisiatif warga, terutama ibu-ibu dan pemuda, untuk menjadikan lingkungan perumahan berkualitas, maka terbentuk lah komunitas Gerakan Peduli Lingkungan Hidup (GPL). Komunitas ini dibentuk tujuannya agar menularkan kesadaran dalam pengelolaan lingkungan.
Berbagai kreasi pun dilakukan dalam memajukan wilayah di empat rukun warga (RW) di Komplek Pekayon Indah, Kelurahan Pekayon Jaya, Kota Bekasi, selain mengembangkan pengelolaan sampah, penghuni di lingkungan sebelas rukun tetangga (RT), ini juga peduli terhadap penghijauan.
“GPL, dalam penerapan pengelolaan sampah menerapan sistem Reuse, Reduce, dan Recycle. Sistem ini murah dan mudah untuk dilakukan.YGPL sudah banyak jadi percontohan di Kota Bekasi,” kata Ketua pengelola Kompos di Yayasan Gerakan Peduli Lingkungan (YGPL), Suko Witono (68) ke Cendana News, Rabu (21/11/2018).
Dikataka,n sebelumnya tim YGPL, terlebih dulu sudah melakukan sosialisasi di tengah masyarakat untuk memilah sampah menjadi tiga golongan, yakni organik, anorganik dan sampah kotor seperti nasi dan plastik saset yang tidak bisa diolah.
YGPL, lanjut Suko dalam seminggu dua kali melakukan pengelolaan sampah organik menjadi kompos. Dalam pengelolaan, dedaunan dan sampah dapur didaur ulang dengan memanfaatkan bakteri.
“Kita menghasilkan sampah kompos satu ton per bulannya. Untuk harga jual, hanya Rp.2.000 per kilogramnya. Harga itu hanya untuk operasional pekerja,” ungkap Suko, mengaku di komplek Pondok Pekayon sudah sejak tahun 2003, merintis penghijauan lingkungan.
Jika di tempat lain, pengelolaan sampah menggunakan sistem bank sampah dimana warga yang mengumpulkan sampah akan mendapat uang dalam bentuk tabungan dan dikembalikan kepada individu. Namun YGPL, pengelolaan sampah dananya dikembalikan kepada masing masing RT di empat RW di kelurahan Pekayon Jaya.
Dana itu, imbuh Suko, akan digunakan masing masing RT, untuk melakukan perawatan lingkungan, sesuai kebutuhan dalam peningkatan kualitas lingkungan di sekitar perumahan. YGPL bisa disebut sebagai pelopor pengelolaan lingkungan, dan sudah banyak mendapat bantuan baik dari kementerian dan pemerintah daerah.

Pantauan di lokasi, tempat pengelolaan Kompos YGPL, di samping melakukan pengelolaan kompos, ada juga pengembangan pupuk dari kotoran cacing merah. Untuk jenis pupuk tersebut panennya dua minggu sekali dan bagus untuk pupuk buah di tanam sistem pot.
“Ada pengelolaan pupuk cair, kotoran sapi, kambing, kompos, dedak. Kemudian dipermentasi dikasih air, 100 liter bakterinya satu liter, dan harus diaduk setiap hari 15 menit, dan tiga minggu sudah panen. Pupuk cair ini cocok untuk tanaman seperti sayuran,” pungkas pensiunan Pertamina tersebut.