DONGGALA — Sejumlah nelayan di Desa Lero dan Lero Tatari, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, sangat membutuhkan bantuan pemerintah agar mereka bisa kembali melaut menangkap ikan untuk membangkitkan ekonomi keluarga.
“Hingga masa tanggap darurat transisi bencana alam gempa, tsunami dan likuefaksi yang menimpa Palu, Sigi, Donggala, korban dari kalangan nlayan di pesisir Desa Lero dan Lero Tatari, belum bisa malaut karena mesin katinting dan alat tangkap lainnya habis tersapu gelombang tsunami,” ucap salah seorang tokoh masyarakat Desa Lero Mohammad Hamdin, Minggu (25/11/2018).
Kata Hamdin, masyarakat di dua desa tersebut sekitar 200 kepala keluarga yang kesehariannya sebagai nelayan terancam kehilangan pekerjaan pascabencana tsunami.
Hal itu karena bencana tsunami mengubah segalanya, mulai dari area tangkap ikan dan peralatan nelayan rusak total serta trauma, bahkan ada nelayan yang hilang tersapu tsunami.
“Ini masalah serius. Perlu direspon secara cepat dan tepat, tidak boleh dibiarkan berlama-lama karena menyangkut taraf hidup dan kesejahteraan nelayan,” ujar dia.
Anggota DPRD Sulawesi Tengah, Muhammad Masykur, yang mendengar langsung aspirasi nelayan di wilayah itu, mendesak pemerintah Kabupaten Donggala untuk segera memenuhi kebutuhan nelayan.
“Saya mendengar langsung keluhan yang mereka sampaikan kepada saya. Intinya mereka butuh alat penangkap ikan,” ucapnya.
Bencana tsunami yang menghantam beberapa kecamatan di Donggala pada Jumat 28 September 2018 petang berdampak kerusakan alat tangkap nelayan.
Seperti di wilayah pesisir Kecamatan Tanantovea, Sindue, Sindue Tobata, Sindue Tombusabora, Sirenja dan Banawa serta di beberapa wilayah lainnya, alat tangkap nelayan rusak total.
Sementara itu, Abdullah, salah satu nelayan Desa Lero Kecamatan Sindue mengaku akibat gempa dan tsunami rumah dan alat tangkap yang dimilikinya hilang tanpa bekas.
“Kini saya dan keluarga harus mulai dari nol lagi. Harus bertahap memang. Tidak bisa tidak mesti dilalui. Tinggal berharap kepedulian pemerintah daerah. Jika ditanya apakah kami sudah siap bekerja dan kembali melaut, kami jawab iya karena mau sampai kapan kami begini,” akui Dullah, sapaan akrab Abdullah.
Bagi Dullah bencana alam yang terjadi 28 September 2018 itu menyisakan banyak cerita duka dan selamat dari terjangan tsunami dengan hanya baju di badan. Bersama keluarga ia kini hidup di tenda pengungsian Lapangan Sanggola, Dusun 01 Pompaya, Desa Lero. (Ant)