Martinus dan Caca Setia Membuat Bingkai Koran Bekas
Editor: Mahadeva WS
MAUMERE – Bingkai foto, merupakan usaha kerajinan tangan, yang bila ditekuni serius, bisa menjadi sumber penghasilan meski keuntungan yang didapat relatif tidak besar.
“Kami memberanikan diri untuk membuat kerajinan tangan bingkai foto. Keterampilan ini saya peroleh saat berada di Rutan Maumere,” sebut Martinus Mijin, Selasa (20/11/2018).

Ditemui Cendana News saat berjualan bingkai foto di pasar Alok Maumere bersama isterinya Maria Oktavia, keduanya mulai menekuni usaha tersebut sejak 2013 lalu. Usaha dimulai dengan memanfaatkan modal yang pas-pasan. Pembuatan bingkai dimuai dengan menggulung kertas koran bekas hingga menjadi gulungan kecil-kecil. Gulungan kertas koran kemudian disusun dan dibentuk, sesuai ukuran standar foto, atau sesuai pesanan pelanggan.
Setelah dibentuk, bingkai dilapisi dengan tripleks dan plastik mika. “Bingkai yang dibuat, tidak mempergunakan kaca, tetapi plastik mika, agar saat terjatuh tidak pecah. Tapi kalau pembeli menginginkan memakai kaca tentu kami siapkan juga,” tambahnya.
Semua bahan untuk pembuatan bingkai dibeli di toko, kecuali koran bekas yang dibeli di agen koran. Harga koran sebagai bahan baku utama pembuatan bingkai pada awalnya dibeli Rp1.000 perkilogram, saat ini sudah naik mencapai Rp5.000 perkilogram. “Awal buat bingkai koran, kami meminta saja koran dari tetangga yang langganan dan juga dari agen, tapi sekarang harus beli. Kertas kado pun selembarnya dari harga Rp2.000 kini sudah naik menjadi Rp3.000,” bebernya.
Satu kilogram koran bekas, bisa menghasilkan lima bingkai. Satu bingkai dijual Rp20.000. Sementara bingkai ukuran besar, dijual Rp50.000. Kini, Caca, sang isteri, juga mahir membuat bingkai kertas koran setelah belajar membuat di rumah, saat sang suami mencari uang dengan mengojek.
“Dulu sebelum mempunyai sepeda motor, kami menjualnya keliling Kota Maumere dengan berjalan kaki, menawarkan dari rumah ke rumah. Setelah cukup uang, kami kredit sepeda motor, agar bisa keliling pasar ke pasar, untuk menjual bingkai dan mengojek,” ungkapnya.
Suka duka dialami sebagai pembuat bingkai kertas koran. Terkadang ada pembeli yang sudah memesan, tetapi akhirnya membatalkan pembelian setelah pesanan selesai dikerjakan. “Kadang saat kami jual di pasar, ada yang menawar harganya. Saya heran, kalau mereka beli bingkai foto di toko tidak pernah menawar harga,” sesalnya.
Pasangan tersebut, menerapkan metode kerja sehari membuat bingkai di rumah. Sehari berikutnya untuk berkeliling menawarkan bingkai produksinya. Pemasangan dilakukan dengan berkeliling Kota Maumere, bahkan hingga ke perbatasan antara Kabupaten Sikka dan Ende di bagian barat Kota Maumere.
“Jika pesanan banyak, sebulan kami bisa mendapatkan keuntungan Rp1 juta, tapi terkadang cuma Rp600 ribu saja. Dalam sehari bisa terjual 10 buah bingkai. Kami bisa membuat banyak, tapi tidak memiliki modal yang besar,” terangnya.
Martinus dan Caca, mengaku belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Termasuk saat digelarnya Pilkada di 2014 silam. Saat itu, banyak calon yang berdatangan menawarkan bantuan. Namun, hingga kini, bantuan dari Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM setempat, belum pernah diperolehnya.
Bingkai foto produksi pasangan tersebut, bisa memiliki bermacam-macam motif, termasuk motif tenun ikat. Namun, harga jualnya, tidak terlalu mahal agar bisa terjangkau masyarakat berpenghasilan rendah.