Garam Tanah Ai Baru Merambah Pasar Sikka

Editor: Mahadeva WS

MAUMERE – Produksi garam konsumsi merek Tana Ai cap Bintang Laut, yang diproduksi di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura baru merambah pasar di Sikka.

Gabriel Boli, pimpinan produksi di tambak garam Tanah Ai desa Nangahale kecamatan Talibura kabupaten Sikka.Foto : Ebed de Rosary

“Garam beryodium yang kami produksi dibawah bimbingan PT. Krisrama, sementara masih dijual di kios-kios di Kabupaten Sikka saja. Kami belum berencana menjual ke kabupaten lain di NTT, sebab belum memiliki label dari BPOM,” sebut Gabriel Boli, pengelola produksi garam Tanah Ai, Senin (5/11/2018).

Dengan luas lahan tambak garam sebesar 0,5 hektar, dua minggu sekali bisa panen garam 1,5 ton sampai dua ton, menggunakan teknologi geo membran. Garam hasil panen, kemudian diolah menggunakan mesin menjadi garam beryodium yang bisa dikemas. “Saat ini produksinya masih menggunakan kemasan berukuran 250 gram, yang dijual Rp30 ribu per pak isi 20 bungkus,” terangnya.

Tambak garam yang mulai beroperasi 2015 tersebut, kini memiliki enam petak. Petak paling depan memiliki luas 20×50 meter, kemudian disusul ukuran 17×50 meter, hingga yang paling belakang untuk panen, memiliki luas 10×10 meter. “Air laut kami pompa, dan saat ini baru menggunakan satu pompa saja, sehingga membutuhkan waktu tujuh jam untuk mengisi penuh areal tambak. Kalau menggunakan dua pompa, tentu waktunya lebih cepat, namun dana masih belum ada,” tandasnya.

Tambak garam tersebut, dikerjakan 10 tenaga kerja baik laki-laki maupun perempuan, yang berasal dari warga sekitar tambak. “Areal tambak akan diperbesar, namun masyarakat adat menghadang,” ungkapnya.

Niat memperbesar usaha masih terhalang, meskipun tanah yang dipergunakan merupakan tanah Hak Guna Usaha (HGU), yang dikontrak PT. Krisrama dari pemerintah. Padahal dengan berkembangnya usaha, dapat memberikan kesempatan kerja kepada masyarakat sekitar. “Selama ini, kami hanya mendapat perhatian dari pemerintah provinsi lewat bantuan geo membran, dan berbagai mesin pengolahan. Pemerintah Kabupaten Sikka belum pernah memberikan bantuan,” terangnya.

Romo Moses Kuremans, Pr, saat mengantar Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi dan rombongan melihat lokasi tambak dan proses produksi menjelaskan, penggunaan teknologi geo membran, sangat membantu proses penguapan air laut hingga menjadi garam. “Pada petak terakhir kadar garamnya sudah mencapai 25 persen. Dalam dua minggu, prosesnya sudah menjadi garam, lalu diangkut untuk dijemur sebelum dimasukan ke karung untuk diproses jadi garam beryodium kemudian dikemas,” terangnya.

Potensi tambak garam di Nangahale, sangat luar biasa dan masih berpotensi besar untuk dikembangkan. Untuk itu, Romo Moses berharap, ada bantuan dari Pemprov NTT, untuk bisa mengembangkan areal tambak garam.

Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi, mengaku bangga dengan garam produksi Nangahale, dan berjanji akan memberikan bantuan, untuk pengembangan usaha garam tersebut, agar poduksinya bisa lebih besar. “Pemerintah akan meminta BPOM melakukan akreditasi dan sertifikasi garam di NTT dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, termasuk garam Tanah Ai yang diproduksi di Nangahale ini,” tegasnya.

Potensi tersebut harus dikembangkan, sehingga bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Semakin besar usaha tersebut, tentunya masyarakat harus dilibatkan agar bisa memberikan manfaat ekonomi.

Lihat juga...