Generasi Muda Diminta Aplikasikan Isi Sumpah Pemuda

Editor: Mahadeva WS

MALANG – Generasi muda diminta tidak hanya mampu melafalkan ikrar Sumpah Pemuda, tetapi juga harus dapat mengaplikasikan isinya dalam kehidupan sehari-hari. Ikrar tersebut telag mengikat generasi muda untuk terus mengawal Negara Kesatun Republik Indonesia (NKRI).

“Sumpah Pemuda tidak cukup hanya dihafalkan, tetapi harus diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Karena sumpah pemuda  telah mengikat kita sebagai bangsa untuk terus mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujar Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, saat menjadi pembicara dialog kebangsaan ‘Sinergi Semangat Sumpah Pemuda, Resolusi Jihad dan Kebudayaan’ di Universitas Brawijaya (UB), Senin (5/11/2018).

Generasi muda harus memahami sejarah bangsa. Sejarah tentang sumpah pemuda, kemerdekaan, resolusi jihad, hingga Indonesia bisa merdeka seperti sekarang ini. Semuanya bukan secara tiba-tiba terjadi, tetapi atas pengorbanan darah, harta, air mata, dari para pejuang pendahulu.

Pemuda Indonesia juga harus meniatkan apa yang diperjuangkan, betul-betul untuk ibadah, dan demi masa depan bangsa. Seperti yang diniatkan pemuda Indonesia 90 tahun yang lalu. “90 tahun yang lalu, para pemuda jaman itu, telah mengikrarkan Sumpah Pemuda. Sekarang, kita yang harus bisa menjaga dan menerapkannya. Sejarah jangan sampai dilupakan, justru kita harus bangga dengan sejarah bangsa ini,” tandasnya.

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Ahmad Basarah, menyebutkan, banyak dari sebagian pemuda Indonesia, saat ini justru mengingkari esensi dari sumpah pemuda. “Pada peringatan sumpah pemuda ke 90 tahun ini, kita dihadapkan pada realitas, sebagian generasi muda tengah menggandrungi ideologi-ideologi dari barat, dengan liberalismenya dan ideologi dari timur dengan radikalismenya,” keluhnya.

Ideologi liberalisme, membawa paham bebas, sebebas-bebasnya. Ideologi tersebut, membawa doktrin, bahwa manusia lahir ke dunia dalam keadaan telanjang, sehingga tidak boleh ada aturan apapun dimuka bumi ini yang menghalangi kebebasan manusia. Mereka membebaskan setiap manusia, untuk berbuat apapun, termasuk melegalkan pernikahan sejenis dan mengkampanyekan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT).

Sementara, ideologi radikalisme, menganut paham, hidup di dunia tidak penting, tetapi yang penting hidup di akhirat. Sehingga para penganutnya, dengan seenaknya melakukan kekerasan, termasuk aksi bunuh diri, untuk mencapai tujuannya. “Kedua ideologi ini tentunya tidak sesuai dengan ideologi dan falsafah yang dianut bangsa Indonesia yakni ideologi Pancasila,” ungkapnya.

Indonesia harus bisa mensyukuri kepemilikan Pancasila, yang telah disepakati oleh para pendiri bangsa, sebagai pedoman kehidupan dan berbangsa. “Bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar jika kita berpedoman pada falsafah bangsa, yaitu Pancasila,” pungkasnya.

Lihat juga...