BI Balikapapan Gelar FESYAR 2018

Editor: Mahadeva WS

BALIKPAPAN – Tingkatkan pemahaman mengenai ekonomi keuangan syariah, khususnya industri halal, Bank Indonesia (BI) menggelar Festival Ekonomi Syariah (Fesyar). Kegiatan digelar khusus untuk Kawasan Timur Indonesia, mengambil tempat di Balikpapan.

Penerapan prinsip syariah, dalam perekonomian Indonesia, secara formal ditandai dengan didirikannya bank syariah pertama pada 1991. Hal itu dilanjutkan dengan munculnya kebutuhan lembaga pendukung, seperti asuransi, pasar modal, lembaga pembiayaan, dan pegadaian. “Meski ekonomi syariah terus berkembang, keuangan (konvensional dan syariah) hanya merupakan salah satu sektor dalam perekonomian, dengan kontribusi 4,2% terhadap PDB Indonesia (BPS, 2017),” ujar Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Suharman Tabrani, dalam acara Fesyar, Jumat (2/11/2018).

Kontribusi sektor ekonomi, yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah di luar sektor keuangan, belum teridentifikasi secara sistematis. Walaupun beberapa pelaku usaha di Indonesia, telah mendeklarasikan usahanya sebagai usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

Merujuk data laporan perekonomian syariah global, State of the Global Islamic Economy Report 2016/2017, ada   delapan sektor utama usaha syariah, yaitu makanan, keuangan, travel, pakaian, media dan rekreasi, farmasi dan kosmetik, kesehatan dan pendidikan.

Berdasarkan laporan tersebut, Indonesia termasuk 10 negara yang memiliki aktivitas usaha syariah terbesar di dunia. Kendati demikian, perlu dilakukan upaya yang lebih intensif, agar potensi sumber daya yang dimiliki Indonesia dapat dioptimalkan dalam aktivitas usaha atau industri halal.

“Usaha tersebut antara lain, dengan menyelenggarakan panel discussion industri halal, yang dapat menjadi sarana dan fasilitasi maupun konektivitas, yang lebih intensif antara otoritas terkait, maupun dengan pelaku usaha dan industri penunjang lainnya,” papar Suharman Tabrani.

Kepala Departemen regional III BI, Wiwiek Sisto Hidajat, memaparkan, melalui diskusi industri halal diharapkan dapat meningkatkan pemahaman ekonomi syariah di Indonesia, khususnya industri halal. “Kegiatan ini merupakan perwujudan peran Bank Indonesia dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, khususnya melalui penyelenggaraan kegiatan fasilitasi dan konektivitas antar otoritas atau pelaku usaha di bidang ekonomi dan keuangan syariah,” ucapnya.

Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi, menyebut, Kalimantan Timur belum memberikan perhatian yang lebih pada ekonomi syariah. “Kalimantan Timur masih kurang memberikan perhatian pada ekonomi syariah. Hal ini tentu menjadi perhatian, dan kami sangat mendukung akan hal ini dari beberapa sektor yang ada,” urainya.

Pada Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia, juga diselenggarakan diskusi Penguatan Ekonomi Syariah, melalui pengembangan regional Halal Value Chain. Kegiatannya, mencakup beberapa topik arah kebijakan pengembangan industri halal Indonesia, peluang dan potensi halal life style Indonesia, Standarisasi atau sertifikasi, dan jaminan halal Indonesia, praktek dan arah kedepan, Potensi dan bisnis industri halal Indonesia.

Lihat juga...