Bahan Pangan, Amorphophallus Ternyata Sengaja Ditanam Warga Lamsel

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Aroma busuk seperti bau bangkai menyeruak saat mendekati sejumlah rumpun tanaman menyerupai bunga Raflesia. Bagi yang tidak mengenalnya, akan menyangka bahwa itu jenis bunga bangkai.

Sumardiono,salah satu warga yang memanfaatkan umbi suweg dan uwi untuk digunakan sebagai bahan makanan. Foto: Henk Widi

“Warga kerap menyangka bunga tersebut jenis bunga Raflesia. Sejatinya bunga tersebut merupakan Suweg yang memiliki nama ilmiah Amorphophallus paeoniifolius, umbinya memiliki manfaat sebagai bahan makanan,” sebut Sumardiono (70) warga Penengahan, Lampung Selatan, saat ditemui Cendana News, Minggu (4/11/2018).

Sumardiono menyebut, tanaman keluarga Araceae ini masih cukup banyak ditemui di kawasan hutan Gunung Rajabasa serta kawasan register 1 Way Pisang. Memiliki ciri berbatang hijau berbintik putih dan biasanya berbunga pada Oktober hingga November dengan ciri khas berbau.

“Warga yang tinggal di wilayah tersebut sudah terbiasa dengan aroma bunga Suweg,” tambahnya.

Diterangkan, selama musim kemarau, sejak Mei hingga September, umbi dan bunga suweg sama sekali tidak terlihat. Namun memasuki bulan Oktober dan November dengan turunnya hujan berintensitas sedang bunga bermunculan.

“Saat bunga suweg belum mekar aroma belum muncul, dan saat sudah mekar akan kelihatan bunga dengan dominan warna merah kecoklatan, serbuk kuning serta aroma busuk akan tercium,” papar Sumardiono.

Salah satu alasan ia menanam karena adanya permintaan umbi yang dikeringkan melalui proses penjemuran sebagai bahan makanan penderita diabetes melitus. Umbi yang sudah besar selanjutnya dikupas dan diiris tipis-tipis berbentuk stik. Irisan umbi suweg yang sudah kering bisa disimpan dalam wadah kedap udara sehingga bisa dikukus sewaktu-waktu sebagai pengganti nasi.

“Saya mendapat permintaan umbi tersebut dari salah satu penderita diabetes karena selama ini saya mengolah suweg hanya sebagai makanan bersama dengan umbi tanaman ubi yang memiliki kandungan gizi,” beber Sumardiono.

Satu umbi suweg yang dipanen disebut Sumardiono bisa memiliki berat empat hingga sepuluh kilogram. Proses pemanenan dilakukan setahun sekali atau lebih cepat menyesuaikan ukuran umbi dengan proses menggali.

Saat panen Sumardiono mengaku bisa memperoleh sekitar 50 kilogram umbi suweg yang sudah dikeringkan dan dijual Rp40.000 perkilogram.

Anton (40) salah satu warga lain yang ingin melihat bunga Suweg mengaku menyangka bunga tersebut adalah Raflesia. Aroma busuk menyengat seperti bunga bangkai membuatnya mudah dicari.

Lalat dan lebah disebut Anton mulai mendekati bunga suweg yang mekar untuk mencari sari bunga tersebut. Meski dijadikan sebagai bahan makanan ia mengaku belum pernah merasakan umbi suweg yang dipercaya sebagai makanan untuk para penderita penyakit diabetes tersebut.

Lihat juga...