Amblasnya Tanah di Pademangan, Karena Pembangunan Vertikal Drainase

Editor: Mahadeva WS

Kepala Dinas Sumber Daya Air (Kadis SDA) DKI Jakarta, Teguh Hendrawan – foto Lina Fitria

JAKARTA – Kepala Dinas Sumber Daya Air (Kadis SDA) DKI Jakarta, Teguh Hendrawan, menyebut, amblasnya tanah di rumah warga di kawasan Pademangan, Jakarta Utara, akibat dari pembangunan vertikal drainase. Pembangunan yang dilakukan dengan pengerukan sedimen tersebut, tidak melalui kajian dan pengukuran.

“Kewenangan vertikal drainase sejak 2016 Januari dilimpahkan ke Dinas PE. Sekarang tupoksi melekat kepada mereka. Memang sebelum 2016 itu tupoksi Dinas SDA, tapi sekarang dilimpahkan ke sana (PE),” ujar Teguh, Rabu (21/11/2018).

Mengenai program di 2019, untuk pembangunan vertikal drainase, Teguh menyebut konsepnya ada di Dinas PE, yang juga bagian dari Pemprov DKI. Hanya saja, pembangunan vertikal drainase, di setiap wilayah berbeda, mempertimbangkan kontur tanah di lokasi pembangunan. “Sepengetahuan saya, pembangunan vertikal drainase disesuaikan dengan wilayah, karena tidak semua wilayah bisa langsung menyerap air,” jelasnya. 

Proses pengerukan sedimen, termasuk yang dilakukan untuk membuat drainase vertikal, tidak bisa dilakukan asal-asalan. Harus melalui proses sosialisasi dan pengkajian. Amblesnya tanah di Jalan Lodan Raya, diduga karena pengerukan untuk pembuatan drainase vertikal di anak sungai Ciliwung yang ada di wilayah itu, dimungkinkan terlalu ke pinggir.

Selain itu, tidak ada kajian sebelum alat berat diturunkan untuk memulai pengerukan. “Tidak ada penghitungan sebelum melakukan pengerukan. Nah ini harus ada kajiannya, jadi enggak sembarangan mengeruk,” tandasnya.

Teguh menyebut, pengerukan di Jalan Lodan Raya bukan dilakukan oleh Dinas SDA, melainkan oleh Badan Air, organiasi yang berada di bawah Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta. Mengenai hal itu, Teguh mengaku sudah berbicara dengan Kepala Dinas LH, agar proyek tersebut dilimpahkan ke Dinas SDA, yang memiliki Unit Pengujian dan Pengukuran, sebelum dilakukan pengerukan.

“Sebelum pengerukan, kita kaji dulu, seperti di Petogogan, warga minta dikeruk, tapi enggak bisa, karena kondisinya tidak memungkinkan. Akhirnya kita lakukakn secara manual, pun itu tidak maksimal,” imbuhnya.

Kendati demikian, Teguh tidak mau masalah amblasnya tanah tersebut terus berlarut dan berujung saling menyalahkan. “Ya sudah ini kesalahan kami (semua). Makanya sekarang akan kita perbaiki supaya jadi bagus. Caranya, ya, sudah kasih ke kita, karena sarana dan prasarana kami ada. Contoh kalau kami melakukan pengerukan, kami loading di pinggir dan malam sudah kita angkat,” paparnya.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin meninjau lokasi rumah warga yang roboh akibat tanah amblas di RT 01/08 dan RT 04/01, Kelurahan Ancol, Jakarta Utara. (Baca: https://www.cendananews.com/2018/11/tinjau-tanah-amblas-di-pademangan-anies-janjikan-perbaikan.html).

Lihat juga...