Akhir Tahun, Sejumlah Negara Bahas Iklim Dunia

Editor: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Menjelang akhir tahun, sejumlah negara Delegasi Pengendalian Perubahan Iklim yang tergabung dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Perubahan Iklim (UNFCC) akan menghadiri Conference of Parties ke-24 (COP-24) di Katowice, Polandia.

Kasubid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Siswanto M.Sc, menyebutkan, bahwa COP ini akan membahas terkait tindakan kolektif untuk menuju implementasi tujuan jangka panjang Perjanjian Paris. Serta untuk mengonfirmasi setiap negara tentang persiapan komitmen kontribusi nasional yang ditentukan (NDC) terhadap pengendalian emisi gas rumah kaca masing-masing negara.

“Dialog ini akan diistilahkan Dialog Talanoa. Para delegator akan fokus untuk mempertimbangkan aksi dan rencana target pengendalian emisi nasional pra-2020, pada awal Desember ini,” kata Siswanto pada Cendana News di Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Siswanto menyampaikan bahwa sudah banyak pertemuan internasional yang digelar sebelum event COP 24 Katowice ini yang dihadiri oleh para pemimpin negara dan kota, para pengusaha, investor, lembaga-lembaga komunitas dan swadaya serta masyarakat sipil. Untuk menggarisbawahi perlunya tindakan transformasional yang memperkuat upaya untuk memerangi dampak perubahan iklim dalam semangat solidaritas.

“Di antaranya adalah Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018 dan Our Ocean Conference (OOC) 2018 di Nusa Dua Bali bulan lalu. Pada dua pertemuan itu, saya melihat ada upaya serius menuju Paris Limit 2 derajat Celcius,” ungkap Siswanto.

Misalnya, di dalam IMF-World Bank 2018 summit meeting, Pembangunan Rendah Karbon and Green Economy menjadi topik yang serius.

“Hasil pertemuan OOC juga mendukung langkah penguatan kualitas komitmen dengan distribusi yang seimbang untuk setiap bidang tindakan pengendalian perubahan iklim, di antaranya 305 komitmen nyata dan terukur, 10.7 miliar Dolar AS sebagai bentuk komitmen moneter dan 14 juta km persegi Kawasan Konservasi Laut,” papar Siswanto.

Siswanto menegaskan bahwa kesadaran kolektif akan implementasi Kesepakatan Paris melui tindak lanjut aksi iklim adalah sangat penting.

“Inti dari aksi iklim ini adalah pendanaan yang dapat diprediksi, berkelanjutan dan transparan, baik dari publik maupun swasta. Dan tentunya sangat bergantung pada aksi negara-negara berkembang dalam menerapkan target NDC dan tetap komitmen pada Kesepakatan Paris untuk menekan laju suhu dunia tidak lebih dari 2 derajat Celcius. Bahkan jika bisa di bawah 1,5 derajat Celcius akan lebih baik,” ujarnya.

Target kontribusi nasional (NDC) Indonesia pada periode pertama, menurut Siswanto, adalah pengurangan 29% emisi dengan upaya sendiri dan 41 persen jika ada bantuan dan kerja sama internasional pada tahun 2030.

“Target itu, antara lain, dicapai lewat sektor kehutanan dan pertanian, energi termasuk transportasi, industri dan penggunaan produk, serta penanganan limbah,” katanya.

Lihat juga...