Survey Jalur Pendakian Gunung Rinjani, Usai Musim Hujan

Editor: Koko Triarko

Kepala Balai TNGR, Sudiyono/ Foto: Turmuzi
MATARAM – Hasil survei pengelola Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), menemukan hampir sebagian besar jalur pendakian yang selama ini dilalui masyarakat dan wisatawan mengalami kerusakan ringan hingga berat, pascagempa bumi yang melanda Pulau Lombok, beberapa waktu lalu.
“Kondisi tersebut didapatkan setelah tim survei TNGR melibatkan TNI, Polri, Basarnas, Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur,” kata Kepala Balai TNGR, Sudiyono di Mataram, Rabu (24/10/2018).
Selain itu, TNGR juga melibatkan BPBD Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur, Perwakilan Trek Organizer Senaru dan Sembalun, Perwakilan Guide dan Porter serta EMHC (Edelweis Medical Center).
Tujuan kegiatan survey adalah untuk mengetahui kondisi jalur pendakian dan sarana prasarana pascagempa di Lombok, apakah bisa dikunjungi dalam waktu dekat atau tidak.
Beberapa jalur pendakian yang mengalami kerusakan akibat gempa, antara lain, jalur Sembalun, Senaru dan jalur Budaya Torean. “Dalam kondisi normal, pembukaan jalur pendakian Gunung Rinjani menuju Danau Segara Anak diperkirakan dapat dilakukan pada 2020,” katanya.
Selain jalur pendakian, sejumlah fasilitas sepanjang jalur pendakian juga mengalami kerusakan, antara lain kantor TNGR Resort Sembalun yang rusak berat.
Gapura pendakian di Jebag Gawah Senaru dalam kondisi rusak ringan, pos Jaga dan toilet di Jebag Gawah Senaru, rusak berat, termasuk beberapa shelter jalur pendakian Senaru juga rusak berat dan jembatan beton.
“Sepanjang jalur pendakian Senaru, juga terdapat 14 titik longsor dan 11 titik retakan tanah. Longsoran di Gunung Rinjani tersebut patut dijadikan bahan pertimbangan bagi pihak terkait, dalam rangka antisipasi bencana bagi masyarakat di sekitar daerah aliran sungai yang berhulu di Gunung Rinjani, ketika musim hujan akan datang,” katanya.
Sriyono menambahkan, survey rencana rehabilitasi jalur pendakian dan fasilitas pendukung dimungkinkan dapat dilakukan setelah musim hujan selesai (diperkirakan sekitar bulan Mei 2019).
Dalam rangka memberikan alternatif wisata bagi para pelaku wisata Rinjani yang menggantungkan mata pencahariannya dari wisata pendakian Rinjani, Balai TNGR berencana untuk melakukan survey jalur wisata alternatif dengan melibatkan pihak terkait.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata NTB, Lalu Muhammad Faozal, juga mengatakan, dari sekian banyak objek wisata di NTB, hanya Rinjani yang masih belum aman dikunjungi, sementara objek wisata lain telah normal.
Ia pun berharap, supaya proses pemulihan kawasan Rinjani bisa segera dilakukan, sehingga wisatawan bisa melakukan pendakian kembali. Mengenai kapan Rinjani layak dikunjungi, Dispar sepenuhnya menyerahkan kepada pihak pengelola TNGR sebagai pihak yang berwenang.
Lihat juga...