PT BSI: Pertambangan tak Selalu Berbahaya

Editor: Koko Triarko

Direktur PT BSI, Boyke Abidin -Foto: Sultan Anshori
DENPASAR – Perusahaan tambang di beberapa tempat, seringkali berseberangan dengan kepentingan masyarakat sekitar. Bahkan, konflik antara tambang versus warga, bak persoalan tak terurai.
Berbagai alasan dikemukakan, mulai mengancam pendapatan warga, hingga membahayakan hidup dan kehidupan masyarakat. Tak hanya kepada manusia, tambang juga sering dituding membahayakan lingkungan.
Keberadaan tambang sejatinya tak melulu bertolak belakang dengan keberadaan masyarakat sekitar. Bahkan, bisa selaras dan memberikan manfaat lebih bagi warga sekitar.
Pun halnya dengan kondisi lingkungan, sepanjang bisa dikelola dengan baik, tambang tak melulu menjadi kegiatan yang merusak dan membahayakan lingkungan.
Direktur PT. Bumi Suksesindo (BSI), Boyke Abidin, menjelaskan, jika dikelola dengan baik dan benar serta memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, tambang justru memberi nilai tambah kepada masyarakat dan pemerintah. Pada saat sama, kondisi lingkungan dapat terjaga dengan baik.
“Tambang tidak melulu bahaya kalau dikelola dengan benar, green, memperhatikan wawasan lingkungan sekitar. Tambang bisa memberikan dampak kesejahteraan bagi masyarakat,” ucap Boyke, saat ditemui di acara media gathering di Denpasar, Kamis (18/10/2018) sore.
Menurut Boyke, perusahaannya diberikan izin untuk mengelola kawasan seluas 4.998 hektare di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi.
Diakuinya, jarak pengelolaan areal PT BSI tak terlalu jauh dengan keberadaan objek wisata Pulau Merah. Kendati begitu, keberadaan perusahaannya sama sekali tak merusak keindahan alam Pulau Merah.
“Sekali pun ada tambang, kita tidak mengganggu objek wisata Pulau Merah. Sebaliknya, kita hidup berdampingan sebagai ‘tetangga yang baik’,” imbuh Boyke.
Menurutnya, dunia pertambangan sejatinya tidak bisa dipisahkan dari hidup dan kehidupan manusia. Bahkan, jauh sebelum manusia mengenal peradaban, tambang sudah terlebih dahulu ada. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya perkakas dan alat berburu manusia prasejarah yang terbuat dari batuan, besi, tembaga dan sebagainya.
“Itu juga bagian dari tambang. Di dunia ini, mulai dari cincin hingga handphone, itu tambang. Yang kita lihat sekarang di banyak media, tambang itu merusak. Itu yang harus diawasi,” papar dia.
Saat ditanya soal produksi emas, menurut Boyke, berdasarkan data BSI, pada 2917, BSI mencapai milestone penting, karena berhasil mencapai produksi perdana emas dan perak dari tambang Tujuh Bukit, yakni 142.468 ounce (oz) emas dan 44.598 oz perak.
Pada 2018, produksi emas perusahaan ini ditargetkan meningkat menjadi 155.000 oz hingga 170.000 oz emas. Dan, perusahaan tambang yang terletak di Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten ini disainyalir merupakan pabrik tambang terbesar ketiga stelah Freport dan Newmont.
“Sampai semester I/2018, tambang yang berlokasi di dekat objek wisata Pulau Merah, Banyuwangi ini sudah memproduksi 83.713 oz emas dan 48.226 perak. Pada tahun ini, perseroan menargetkan peremukan bijih, penumpukan dan pengolahan emas sebanyak 6,2 juta ton,” jelasnya.
Di sisi lain, ia menjelaskan jika PT BSI secara aktif mengambil inisiatif dalam berbagai program pengembangan ekonomi daerah dan nasional.
Berbagai terobosan yang diambil itu memberi manfaat dan dampak positif bagi masyarakat. Salah satunya, program hibah kepemilikan saham kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi, sebagai salah satu pemegang saham terbesar di tambang Tumpang Pitu.
Tak hanya nilai saham yang terus meningkat, sebagai pemegang saham Pemkab Banyuwangi ikut mendorong lahirnya berbagai program CSR yang menguntungkan masyarakat.
“Secara finansial, kontribusi tambang Banyuwangi juga terus meningkat, sejalan dengan aktivitas penambangan dan produksi yang bertambah. Kami memiliki komitmen jangka panjang untuk kemajuan Banyuwangi,” tegas Boyke.
PT BSI juga menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR) secara aktif, dan telah menjangkau sekitar 42 ribuan warga, khususnya yang berada di Kecamatan Pesanggaran, di mana lokasi tambang emas Tumpang Pitu, berada.
“Ada empat bidang fokus CSR kami, yaitu kesehatan, pendidikan, pengembangan UMKM dan pembangunan infrastruktur. Sebagai bagian dari tanggung jawab lingkungan, PT BSI telah menjalankan program rehabilitasi yang mencapai total lahan seluas 21,08 hekare’” katanya.
Terkait tenaga kerja, seluruh karyawan dan kontraktor saat ini berjumlah 1.795 orang, terdiri dari 99 persen warga negara Indonesia dan 1 persen ekspatriat. Dari angkatan kerja, 60 persen berasal dari Banyuwangi, termasuk sekitar 38 persen dari Kecamatan Pesanggaran.
PT Bumi Suksesindo (BSI) sebagai pengelola tambang emas dan mineral di Tumpang Pitu, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, telah ditetapkan sebagai obyek vital nasional pada 2016, dan menjalankan usahanya secara seimbang, antara kepentingan masyarakat, pemerintah dan lingkungan.
Lihat juga...