Bedog Art Festival 2018 Suarakan Keberagaman

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Agenda seni tahunan yang selalu ditunggu masyarakat Yogyakarta, Bedog Arts Festival (BAF), resmi digelar selama dua hari, di Studio Banjarmili, Kradenan, Banyuraden, Gamping, Sleman, Kamis-Jumat (18-19/10/2018). 
Mengangkat tema Keberagaman Sebagai Harmoni, BAF IX 2108 kembali menyuguhkan pertunjukkan seni tari dan musik melibatkan ratusan seniman berbagai daerah, yang diselenggarakan di bantaran sungai Bedog sebagai ciri khasnya setiap tahun.
Didirikan sejak 2007 oleh M Miroto, GKR Mangkubumi, Angger Jati Wijaya dan Agung Gunawan, BAF memang selalu menyuguhkan pertunjukan seni dengan mengambil lingkungan sungai sebagai ruang kreatif mereka.
Rimbun pepohonan, tebing, kolam mata air, pancuran serta aliran sungai menjadi background sekaligus area pertunjukan kolaborasi seni gerak teater dan musik. Ditunjang dengan ribuan cahaya lampu minyak (senthir), serta kecanggihan tata lampu mempesona.
Salah seorang pendiri sekaligus penyelenggara Bedog Arts Festival, M Miroto –Foto: Jatmika H Kusmargana
“Bedog Art Festival memang didirikan untuk menyuarakan pentingnya kita meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, kepekaan kemanusiaan dan kreativitas,” ujar M Miroto, saat pembukaan acara, Kamis (18/10/2018).
Jika biasanya selalu melibatkan seniman luar negeri, pada perhelatan tahun ini BAF secara khusus mengangkat seniman-seniman muda kreatif asal Indonesia. Sebanyak 15 kelompok peserta akan tampil, mulai dari Kalimantan, Sumatra Barat, Toraja, Jakarta, Bandung, Banyumas, Surabaya, dan tentu saja Yogyakarta dan Solo.
“Tema Keberagaman Sebagai Harmoni kita angkat. karena kita ingin terus menyuarakan hal itu. Indonesia ini dikenal sebagai negara yang penuh keberagaman. Namun faktanya, saat ini ada pihak-pihak yang tidak suka, dan kurang menghargai keberagaman. Padahal, hidup itu penuh dengan keberagaman,” ungkapnya.
Melalui tema inilah, BAF ingin mengajak masyarakat mengingat kembali, bahwa perbedaan dan keberagaman merupakan realitas yang menyatu dalam kehidupan. Dan, keberagaman pada hakikatnya merupakan harmoni yang eksis dalam kehidupan. Sehingga sudah seharusnya setiap manusia mampu untuk saling menghormati dan menghargai.
“Melalui BAF ini, kita juga ingin membantu saudara-saudara kita yang tengah mengalami musibah di Palu-Donggala. Saat acara nanti, kita akan galang dana untuk membantu saudara kita di sana,” jelasnya.
Salah satu penampil, Yuliasri Mugi Rahayu, dari kelompok Sega’ Janga’, mengaku menampilkan tarian daerah yang memadukan tarian Suku Kenyah dan Tomun dari Kalimantan. Mengenakan atribut busana daerah, kelompok yang terdiri dari 17 orang, baik penari dan pemusik ini, menampilkan pertunjukkan yang menyuguhkan sisi kelembutan, kekuatan serta kesakralan lewat gerak dan musik.
“Melalui tarian ini, kita ingin sampaikan, bahwa meski terdiri dari banyak suku, masyarakat Kalimantan bisa membaur dalam tarian. Tarian menjadi salah satu kekuatan yang mempersatukan dan memperkaya budaya,” ungkapnya.
Lihat juga...