Presiden Jokowi: Enam Hercules Penuhi Kebutuhan Logistik Palu

Presiden Joko Widodo. Foto: Dok CDN

JAKARTA  – Presiden Joko Widodo yakin kebutuhan logistik di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong yang terkena bencana gempa dan tsunami dapat segera tercukupi.

“Logistik kita sudah kerahkan enam pesawat hercules dari Jakarta, sebagian dari Makassar, sebagian dari Balikpapan, logistik sudah mulai masuk, mulai hari ini juga akan lebih banyak lagi,” kata Presiden di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa.

Namun Presiden mengakui bahwa pengerahan logistik masih menghadapi kendala listrik karena kerusakan gardu listrik.

“Yang rusak ini gardu, memperbaiki gardu itu tidak mudah sehingga yang kita dorong adalah genset-genset baik kecil, sedang, besar agar bisa digunakan secepat-cepatnya. Kalau menungggu gardu juga, 7 gardu, 5 rusak, 2 berfungsi tapi belum maksimal sehingga menyebabkan kalau tidak ada listrik, air tidak bisa keluar, pompa air tidak bisa digunakan, masalah-masalah ini yang memang kerusakan akibat gempa,” jelas Presiden.

Presiden juga belum menetapkan bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah itu sebagai bencana nasional, namun lebih memprioritaskan agar aparat dapat segera menyelesaikan masalah di lapangan.

“Contoh kemarin alat-alat berat, tadi malam sudah masuk, hari ini sudah mulai bekerja alat-alat berat itu. BBM juga (masuk) tapi problemnya SPBU-nya, alat-alatnya rusak, proses mendistribusikan ke masyarakat masih sedikit masalah, tapi mudah-mudahan sore ini bisa diselesaikan karena sudah ada SPBU ‘portable’ yang diarahkan ke Palu dan sekitarnya,” tambah Presiden.

Presiden menekankan agar penanganan mengatasi bencana harus cepat dan bukan mempersoalkan mengenai masalah administrasi.

“Kemarin sudah saya sampaikan kepada menteri-menteri terkait, urusan BBM penting sekali, urusan listrik juga penting sekali diselesaikan. Kemudian infrastruktur-infrastruktur yang memberikan dukungan kepada kecepatan penanganan logistik misalnya jalan yang longsor, ‘airport’ yang segera bisa normal kembali,” ungkap Presiden.

Presiden juga menyampaikan kepada Panglima TNI dan Kapolri agar melakukan penjagaan di SPBU dan pusat-pusat ekonomi agar semua toko bisa buka kembali dan ekonomi menjadi normal.

“Sehingga kita bisa masuk ke tahap selanjutnya rehabilitasi dan rekonstruksi. Kita juga mengimbau warga bisa tetap tenang di Palu, bisa menjalankan kehidupan ekonomi di Palu sehingga bisa normal kembali, harapan kita kepada seluruh warga seperti itu,” tambah Presiden.

Penanganan pemulihan bencana nantinya akan dipimpin langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Agar penanganan korban tsunami yang ada di Palu, Donggala, Sigi, Parigi Moutong, dikoordinasi oleh Pak Menkopolhukam dan dikomandani langsung oleh Pak Wakil Presiden,” ungkap Presiden.

Gempa berkekuatan 7,4 skala Richter mengguncang Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9) sore. Gempa tersebut mengakibatkan sedikitnya korban tewas 844 jiwa. Sedangkan korban luka berat mencapai 632 orang, hilang 90 orang dan 48.025 jiwa warga yang mengungsi dan tersebar di 103 titik.

Gubernur Sulteng Longki Djanggola sudah menerapkan masa tanggap darurat bencana di provinsi itu selama 14 hari berlaku sejak 28 September hingga 11 Oktober 2018. Daerah yang terdampak meliputi Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Parigi Moutong.

Dari korban meninggal tersebut, 821 orang berasal dari Kota Palu (744 orang sudah teridentifikasi), 11 orang dari Donggala dan 12 orang dari Parigi Moutong.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPNB), dari 7 gardu listrik induk, 5 di antaranya padam dan hanya 2 unit gardu di Pamona dan Posko yang dapat menyuplai listrik ke Tentena dan Poso. PLN sudah membawa 8 genset untuk disebar di Palu dan Donggala sedangkan untuk kebutuhan BBM, Pertamina sudah menerbangkan 4.000 liter solar dengan pesawat pada Senin (1/10).

Kondisi saat ini, listrik PLN dan SPBU masih padam, terjadi kebocoran pipa dan air tumpah, masih terjadi gempa susulan, jalan rusak, pasar dan toko tutup dan muncul likuifaksi atau lumpur dari bawah tanah dan menghanyutkan bangunan.

Selain warga setempat, ada juga 114 orang warga negara asing yang diketahui berada di Palu dan Donggala saat bencana, sebagian dari mereka sudah dievakuasi namun ada juga yang kondisinya belum diketahui.

Saat ini para pengungsi membutuhkan banyak tenda, matras, selimut, makanan, dan kebutuhan pokok lain. Pemerintah juga mengizinkan warga korban gempa mengambil barang di minimarket dan pemerintah yang akan membayarnya. Sedangkan untuk akses transportasi, pelabuban Pantoloan dan Donggala sudah operasional.

Polri sudah mencegah penjarahan dengan mendatangkan 1.000 orang pasukan ditambah pasukan TNI sebanyak 1.300 orang. Sementara, Kementerian Keuangan mencairkan dana RP560 miliar untuk menangani gempa di wilayah Sulawesi Tengah tersebut. (Ant)

Lihat juga...