Pemprov Sumbar Dorong Daerah Bangun Pariwisata
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
BUKITTINGGI — Potensi pariwisata yang ada di Provinsi Sumatera Barat, dinilai perlu untuk terus digali melalui pemikiran-pemikiran yang inspiratif. Seperti wisata yang bersifat edukasi, budaya, kuliner, dan keindahan alam.

Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit mengatakan pembangunan kepariwisataan merupakan potensi yang menyatukan banyak sektor pembangunan kehidupan yang memiliki multiyear efek, dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia menyebutkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat, kunjungan wisatawan asing ke provinsi itu pada Juli 2018 mencapai 5.099 orang atau naik 12,09 persen dibanding Juni 2018 yang tercatat sebanyak 4.549 orang.
Sementara dari catatan PT Angkasa Pura II, kata Nasrul, pengguna jasa angkutan udara di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padang Pariaman, sepanjang tahun lalu mengalami peningkatan hingga 11,2 persen atau mencapai 3,95 juta orang.
Terjadinya peningkatan jumlah penumpang hingga 11,2 persen sepanjang tahun lalu itu, dari 3,55 juta orang pada 2016 menjadi 3,95 juta orang tahun lalu.
“Dari pihak PT Angkasa Pura II memperkirakan kenaikan penumpang yang menggunakan jasa bandara tersebut bisa mencapai 4,35 juta orang atau mengalami peningkatan sebesar 10,12 persen. Dengan kondisi demikian, saya rasa kita perlu melahirkan wisata-wisata baru dari pemikiran yang inspiratif,” katanya, Minggu (28/10/2018).
Tapi yang disayangkan saat ini, yaitu soal ada wisatawan yang datang ke Sumatera Barat, baru seputar daerah Kota Padang dan Bukittinggi.
“Perlu kiranya daerah kabupaten dan kota lain mencari peluang potensi wisata, supaya juga dapat memanfaatkan kunjungan wisata ini berdampak juga bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah masing-masing,” ujarnya.
Menurutnya, bisa saja mungkin fasilitas pendukung menjadi perhatian besar, apakah itu penginapan hotel-hotel dan event kegiatan pariwisata daerah masing-masing dihidupkan lebih banyak lagi.
Ia berkata, selain perlu adanya pengembangan potensi wisata. Sumatera Barat saat ini juga tengah masih ada 3 kabupaten tertinggal, yakni Pasaman Barat, Solok Selatan dan Mentawai. Menurut data yang ada saat ini Pasaman Barat dan Solok Selatan bakal keluar dari daerah tertinggal pada tahun 2019.
“Untuk Mentawai memang masih banyak membangun yang mesti dilakukan, infrastruktur jalan, pelabuhan antar pulau, transportasi lokal baik laut dan darat yang relatif masih mahal. Listrik dan jaringan telekomunikasi dimana masih banyak daerah di pedalaman belum dialiri listrik serta masih blankspot,” terang Nasrul Abit.
Pada kesempatan itu, Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar, Ir. Rizki Handayani Mustafa juga menegaskan digital destination dan nomadic tourism merupakan strategi untuk merebut wisatawan mancanegara.
“Pada tahun ini, Kemenpar menargetkan 17 juta wisman dan akan meningkat menjadi 20 juta wisman pada 2019,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa destinasi digital adalah destinasi yang heboh di dunia maya, viral di media sosial dan nge-hits di Instagram.
“Generasi milenial atau lebih populer kids jaman now sering menyebut diferensiasi produk destinasi baru ini dengan istilah Instagramable. Saya ingin tahun 2018 ini ada 100 destinasi digital di 34 provinsi di Tanah Air,” ujarnya.
Menurutnya, Digital Destination menjadi tuntutan di era booming teknologi, yakni generasi milenial merupakan konsumen yang paling haus akan pengalaman dibanding generasi-generasi sebelumnya.
Hasil survei di seluruh dunia (Everbrite-Harris Poll, 2014) membuktikan bahwa milenial lebih memilih menghabiskan uang mereka untuk pengalaman ketimbang membeli barang-barang.
Dikatakannya, nomadic tourism sebagai solusi dalam mengatasi keterbasan unsur 3A (atraksi, amenitas dan aksesibilitas) khususnya untuk sarana amenitas atau akomodasi yang sifatnya bisa dipindah-pindah dan bentuknya bermacam-macam seperti glamp camp, home pod dan caravan.
Sedangkan, sebagai aksesibilitasnya adalah sea plane dengan mudah membawa wisatawan dari pulau ke pulau, apalagi seperti di Indonesia di mana jumlah pulau mencapai 17 ribu lebih.
Nomadic Tourism memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena mengurusinya juga relatif mudah, sehingga idealnya para pelaku industri pariwisata mau mengembangkan bisnis ini, terutama untuk aksesibilitas dan amenitasnya karena konsep ini cepat memberikan keuntungan komersial.