Nikmatnya Tongseng Daging Ayam Rumah Makan Solo
Editor: Mahadeva WS
LAMPUNG – Berburu kuliner, menjadi salah satu pilihan yang bisa dilakukan, untuk menikmati akhir pekan. Berbagai pilihan makanan tradisional penggugah selera, dapat menjadi pilihan untuk melepas penat dengan mengisi perut.
Rumah Makan Solo, salah satu rumah makan sederhana di Jalan Way Apus, Bakauheni, menjadi salah satu pilihan pemburu kuliner tradisional asal Jawa Tengah, tongseng, di Lampung. Rumah makan milik Hadi Sumarno tersebut, berjarak satu kilometer dari pelabuhan penyeberangan Bakauheni, dan objek wisata Menara Siger, yang berada di ujung Selatan pulau Sumatera.
Hadi Sumarno (68), pemilik rumah makan menyebut, meski di Bakauheni terdapat banyak pilihan menu kuliner, hanya Dia, satu satunya penyedia menu tongseng. Salah satu menu spesial yang disediakan adalah tongseng daging ayam, meski ada beberapa menu lain seperti tongseng daging sapi dan daging kambing.
Berasal dari Solo Jawa Tengah, menu yang disajikan tersebut diklaim, sesuai sejarah tongseng, yang konon berasal dari Kecamatan Klego, Boyolali, Jawa Tengah. Hadi Sumarno menyebut, istilah seng dari tongseng bermula dari penyebutan oseng-oseng, untuk aktifitas memasak yang lebih dikenal dengan tumis.
Di awal usahanya, Hadi Sumarno, sempat tinggal berpindah-pindah di sejumlah kota di Lampung. Usaha berjualan tongseng dilakukan dengan pikulan, “Awal saya merantau ke Sumatera sebagai penjual tongseng berkeliling dengan cara dipikul, tapi karena saya sudah mendapatkan lokasi strategis, di dekat pelabuhan, ditambah tenaga yang sudah berkurang, saya membuka rumah makan, hingga sekarang,” terang Hadi Sumarno, mengisahkan perjalanan usahanya, yang ditekuni hingga sekarang, saat berbincang dengan Cendana News.
Hadi Sumarno menyebut, kuliner tongseng yang dijual di tepi Jalan Lintas Sumatera, menjadi rujukan bagi konsumen yang rindu akan masakan khas Jawa Tengah tersebut. Banyaknya perantau asal Jawa Tengah yang mencari penghidupan di Lampung Selatan, membuat usaha tongseng miliknya, masih bisa menjadi sumber mata pencaharian penopang hidup.

Tongseng daging ayam, menjadi salah satu menu favorit yang disukai pelanggan dari berbagai kalangan. Bagi penyuka daging sapi dan kambing, pilihan tetap disediakan dalam kondisi daging masih segar, yang diperoleh dari pasar tradisional Bakauheni.
Bahan baku yang mudah diperoleh, termasuk untuk keberadaan bumbu pelengkap, membuat kuliner tongseng selalu tersedia di rumah makan tersebut selama 24 jam. Rumah makan tersebut tidak pernah sepi pembeli. Posisi Bakauheni yang menjadi pintu gerbang keluar Sumatera dan masuk Jawa, menjadikannya sebagai titik usaha yang strategis.
Tongseng daging ayam disediakan dari daging ayam kampung dan ayam potong. Aroma khas menggugah nafsu makan dari kuah tongseng akan tercium saat kuliner tersebut ditumis. Bahan dasar tongseng adalah, bagian dari daging kambing, ayam, dan sapi, yang tidak terpakai untuk pembuatan sate. Potongan daging berupa jeroan, daging, dan tulang, dikombinasikan dengan tambahan berbagai jenis bumbu.
Pada pembuatan tongseng yang dilakukannya, Hadi sengaja tidak mempergunakan santan. Hal itu dikarenakan, bahan-bahan yang digunakan sudah cukup memberi kadar air, selama proses pengolahan tongseng.
Beberapa bumbu pelengkap yang disediakan adalah, daun kol, tomat buah, daun bawang, kecap manis, cabai rawit utuh, daun salam, daun jeruk, serai, jahe, bawang merah, bawang putih, kemiri, cabai merah, garam, gula pala, merica. Tahap awal masak, semua jenis bumbu yang disediakan dihaluskan agar menyatu sempurna dengan cara diblender. Selanjutnya semua bumbu halus ditumis pada wajan khusus, bersama dengan daun salam, daun jeruk, serai, jahe hingga tercium aroma harum.
Daging ayam yang sudah dibersihkan selanjutnya dicampurkan dalam bumbu tersebut secara perlahan, sembari diaduk agar bumbu meresap. “Sembari mengaduk daging ayam dan bumbu, tambahkan kecap, gula, garam dan merica, agar tercipta rasa yang khas hingga meresap,” terang Hadi Sumarno.
Tahap terakhir, daun kol, daun bawang, serta tomat bisa ditaburkan, dan diaduk merata hingga terlihat layu. Proses melayukan daun kol, daun bawang prei, dilakukan tidak terlalu lama, agar kesegaran daun masih terjaga. Butuh waktu 15 menit, memasak menggunakan api besar, agar menu tongseng daging ayam yang terdengar suara seng-seng, saat dimasak dan diaduk dalam wajan siap disajikan.
Hasan (50), salah satu pelanggan menyebut, hampir semua jenis tongseng pernah dinikmatinya. Tongseng daging ayam lebih disukai, karena memiliki tekstur lembut dan tidak terlalu banyak mengandung kolesterol yang harus dihindari karena faktor usia. Kelezatan tongseng ayam, berasal dari proses memasak dadakan dengan bumbu rempah yang beragam. “Sejumlah bumbu rempah yang digunakan sangat cocok sebagai penambah stamina terutama saat musim pancaroba atau perubahan musim,” ungkap Hasan.
Menu tongseng ayam, sangat cocok digunakan sebagai menu sarapan sebelum memulai aktifitas. Selain daging, tongseng juga dilengkapi dengan sayur kol. Cukup merogoh kocek Rp25.000 untuk menikmati menu tongseng daging ayam, acar dan sambal, agar dirinya bisa menikmati kuliner tradisional tersebut bersama sepiring nasi hangat.