Milasari: Visi ‘Goro’ Mereformasi Ekonomi Kerakyatan 

Editor: Koko Triarko

Direktur Utama PT Berkarya Makmur Sejahtera, Milasari Kusumo Anggraini, pada soft opening Goro Cibubur di Jalan Alternatif Cibubur, Bogor, Jawa Barat, Rabu (17/10/2018). -Foto: Sri Sugiarti.
JAKARTA – Direktur Utama PT Berkarya Makmur Sejahtera, Milasari Kusumo Anggraini, menjelaskan, Goro lahir dari visi mereformasi ekonomi kerakyatan yang terintegrasi dengan ekosistem Goro, melalui upaya-upaya pembinaan Usaha Kecil Menengah (UKM).
“Lahirnya Goro Cibubur ini adalah pusat grosir modern yang akan membina para UKM secara gotong royong,” kata Mila, pada soft opening Goro Cibubur di Jalan Alternatif Cibubur, Bogor, Jawa Barat, Rabu (17/10/2018).
Menurutnya, pembinaan tersebut salah satunya dengan memberikan pendidikan dan pengarahan terkait bisnis, maka dipastikan Goro akan mengakomodasi para petani sayur mayur, pedagang buah, perajin, dan berbagai jenis UKM lainnya untuk dijadikan sebagai mitra.
“Kita bina dan arahkan mereka dengan pendidikan berkesinambungan. Supaya mereka mencapai standar produk juga berkompetensi, seperti standar internasional. Itu beban kita saat ini yang menarik dan menantang,” tukasnya.
Berdasarkan statistik, sebut dia, di Indonesia ada 37 juta UKM, dan hanya 8 persen yang menggunakan sistem online atau teknologi. Dengan kesempatan ini, Goro bangkit menggandeng UKM-UKM untuk dibina dan dididik  dengan standarisasi kompetensi, untuk menghasilkan kualitas produknya yang lebih bagus.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, target pembinaan UKM pemerintah adalah 57 juta UKM hingga akhir 2018 ini. Apakah tercapai atau tidak? Mila optimis tercapai, karena menurutnya  banyak pelaku UKM yang komitmen untuk mengembangkan bisnisnya, tapi mereka merasa belum berbadan hukum, sehingga tidak mudah dalam pengembangannya.
“Mereka akan kita bina. Karena saya datang ke lereng Gunung Merapi dan bertemu dengan petani serta perajin. Mereka mengeluh tidak tahu harus menjual produknya pada siapa,” ujarnya.
Yang hanya bisa mereka lakukan, tambah dia, adalah menjual pada penadah dengan harga murah. Inilah yang menyebabkan kesejahteraan mereka tidak pernah meningkat.
“Ini tugas Goro untuk membina 37 juta UKM. Kami menargetkan 10 persen dari jumlah itu akan dibina melalui sistem yang dimiliki Goro. Dengan quality control, bisa kita ajarkan pelaku UKM perlunya untuk labeling, trade mall, dan lain sebagainya,” ungkap Mila.
Dengan masuknya mereka ke ekosistem Goro, Mila berharap nantinya Goro  bisa menjalin kemitraan dengan para petani, sehingga mereka bisa menjual produknya dengan standarisasi harga yang layak bagi mereka.
Mila optimis, Goro akan mampu bersaing dengan sejumlah usaha grosir lain yang sebelumnya telah lebih dulu berkembang di Indonesia. Menurutnya, sistem kemitraan dengan para produsen yang berada langsung di bawah binaan Goro, diyakini merupakan salah satu keunggulan Goro.
Dia juga memastikan, harga produk yang ditawarkan Goro, juga akan mampu bersaing dengan pusat grosir dan toko lainnya. Karena,  nantinya Goro juga akan menampung sejumlah produk di bawah label namanya.
“Bedanya, Goro adalah kita punya ekosistem. Kita membentuk dahulu ekosistem, yakni kita punya binaan dan tujuan. Kita tidak membuka Goro multi grosir di Bandung, tapi di Cibubur, dulu. Itu pembentukan ekosistem, yakni di mana kita bangun di sekelilingnya,” jelasnya.
Sehingga, tegas dia, harga pun dijamin lebih murah, seperti untuk fresh food dan juga dry food, pihaknya ke depan akan menampung banyak produk dengan label Goro.
“Dalam waktu dekat, kita akan menjadi pusat grosir di Indonesia yang cashless,” pungkasnya.
Lihat juga...