Meski tak Luas, Kopi Sumbar Miliki Ciri Khas

Editor: Koko Triarko

PADANG – Pemerintah Provinsi Sumatra Barat, meminta kepada semua pihak untuk ikut mendukung dan mempromosikan produksi kopi asli daerah setempat. Hal ini karena kopi di daerah tersebut, mempunyai ciri khas rasa, yang berbeda dengan kopi di sejumlah daerah.
Wakil Gubernur Sumatra Barat, Nasrul Abit, mengatakan, daerahnya itu cukup terkenal dengan Arabika, yang diproduksi oleh Kopi Solok Radjo, serta beberapa pengusaha kopi lainnya. Hal itu membuktikan, kopi menjadi sebuah usaha yang menjanjikan.
“Rasa kopi itu muncul dipengaruhi oleh tanaman yang ada di sekitarnya. Mungkin seorang pecinta kopi akan tahu, di mana kopi itu ditanam. Artinya, kondisi alam di Sumatra Barat mampu melahirkan rasa kopi yang enak dan khas,” katanya, Jumat (26/10/2018).
Ia menjelaskan, kopi di Sumatra Barat memiliki rasa yang lebih menonjol, yaitu rasa asamnya. Sementara kalau dari soal aroma, kopi di Sumatra Barat, sangat kental dengan aroma kopi, sehingga bila mulai ditumbuk menjadi bubuk kopi, aroma kopinya akan menyebar.
Menurutnya, perkebunan kopi di Sumatra Barat, memang tidak begitu luas. Bahkan, ada beberapa petani kopi, telah beralih ke berkebun gambir. Hal itu terjadi, karena tidak memiliki pasar yang bagus.
“Melihat dari Kopi Solok Radjo, usaha itu diinisiasi oleh anak muda. Dimulai dari mengumpulkan kopi petani yang ada di Kabupaten Solok, hingga ke Jambi. Kopinya telah sampai di pasaran ke luar negeri,” ujarnya.
Hal tersebut merupakan contoh, kata Nasrul, bahwa kopi Sumatra Barat, memiliki cita rasa dan aroma kopi yang khas. Bisa dikatakan, rasa kopi Sumatra Barat tidak dimiliki oleh daerah lainnya.
Menurutnya, promosi kopi juga bisa dilakukan di berbagai hal, salah satunya melalui pertemuan para pecinta kopi, yang turut mengundang sejumlah pengusaha penjualan kopi dan pengusaha cafe.
“Ya, mereka ada melakukan kegiatan belum lama ini, yakni Minang Coffee Festival. Saya lihat kegiatan itu suatu kreativitas yang bagus dalam pemasaran dan menggairahkan kopi di Sumatra Barat,” jelasnya.
“Harapan saya dengan adanya Minang Coffee Festival Sumatra Barat, bisa mengembangkan untuk bisa membuka peluang kerja, meningkatkan pendapatan dan tentunya bisa mengangkat nilai dan kualitas hasil pertanian kopi Sumatra Barat”, sebutnya.
Sementara itu, Ketua Mickofes 2018, Syahrul Rashib, mengatakan, kompetisi Minang Coffee Festival bertujuan untuk memberikan pelatihan kepada pengusaha kopi. Selain itu, kegiatan itu juga pertama kali dilakukan di Sumatra Barat.
“Kami sebagai penyelenggara, merangkai kegiatan ini baru pertama kali, sebagai promosi bersama pengusaha kopi dengan pemerintahan,” tegasnya.
Keterampilan dan kompetisi itu, dikuti 50 peserta workshop,  24 orang yang mengikuti kompetisi Minang Coffee Festival dan juga didukung oleh Juri Nasional dan Internasional.
Ia berharap, mudah-mudahan dengan adanya Michofes bisa menjadi kegiatan rutin Sumatra Barat dalam dunia kopi, dan supaya bisa meningkatkan nilai pendapatan petani dan usaha perkopian di Sumatra Barat.
Lihat juga...