Koperasi Berperan Besar Majukan Sektor Usaha Kecil

Editor: Koko Triarko

PADANG – Koperasi pada umumnya merupakan hasil dari usaha yang tidak spontan, dan tidak dilakukan oleh orang-orang yang sangat kaya. Koperasi tumbuh dari kalangan rakyat, ketika penderitaan dalam lapangan ekonomi dan sosial yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme semakin memuncak.
Namun, seiring waktu berjalan, banyaknya bermunculan lembaga keuangan, membuat koperasi samar dari pandangan masyarakat. Kendati demikian, peran koperasi selama ini meninggalkan jejak prestasi tersendiri.
Di Sumatra Barat, jumlah koperasi saat ini mencapai ribuan, tersebar di seluruh daerah atau kabupaten dan kota di Sumatra Barat. Tidak dapat dipungkiri, tumbuhnya ekonomi rakyat tidak lepas dari peran koperasi. Hal ini karena koperasi menjadi sandaran bagi kehidupan masyarakat, di masa-masa sulit ekonomi.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatra Barat, Zirma Yusri, mengatakan, melihat pada sejarahnya, dulu itu berdirinya koperasi dari beberapa orang yang penghidupannya sederhana, dengan kemampuan ekonomi terbatas, terdorong oleh penderitaan dan beban ekonomi yang sama, secara spontan mempersatukan diri untuk menolong dirinya sendiri dan manusia sesamanya.
Bisa dikatakan, koperasi dijalankan dengan rasa kekeluargaan antaranggota dengan pengurus. Rasa itulah yang membuat koperasi bisa berjalan dengan baik. Intinya, tanpa ada rasa kekeluargaan, akan sulit bagi koperasi itu untuk terus berjalan melawan waktu.
“Dari sejumlah koperasi, hal yang dikeluhkannya ialah soal perbankan yang menyalurkan KUR (Kredit Usaha Rakyat) dengan bunga yang lebih rendah. Sementara koperasi yang memiliki unit usaha simpan pinjam, tidak mampu bersaing dengan perbankan, karena bunga pinjaman di koperasi lebih besar dari KUR. Akibatnya, anggota koperasi lebih memilih meminjam uang ke bank,” katanya, Kamis (25/10/2018).
Kegalauan itu hampir dirasakan seluruh koperasi di Sumatra Barat. Tapi, misi koperasi untuk menumbuhkan-kembangkan usaha rakyat, tidak lantas luluh. Persoalan memang tengah menghadang, namun koperasi mampu mengatasi persoalan itu, dan fokus untuk membantu usaha rakyat.
Menurutnya, tumbuh kembangnya UMKM tidak bisa dilepaskan dari baiknya kondisi suatu koperasi. Ketika di satu sisi perbankan tidak bisa membantu meminjamkan dana, sisi itu mampu diisi oleh koperasi. Hal inilah yang membuat dampak keberadaan koperasi sampai saat ini masih hidup di kalangan masyarakat.
Zirma menceritakan, dari kegiatan Fam Trip Koperasi, atau dikenal dengan kegiatan meninjau langsung eksistensi koperasi-koperasi hebat di Sumatra Barat, Dinas Koperasi dan UKM Sumatra Barat melihat langsung bagaimana geliat usaha rakyat di berbagai daerah.
“Saya telah melihat langsung bagaimana ekonomi masyarakat tumbuh. Seperti beberapa waktu yang lalu, saya bersama rombongan lainnya menuju Kabupaten Pasaman Barat, ada unit usaha dari koperasi, yakni Koperasi Alabasiko II, memiliki usaha ternak yang sangat bagus. Ada ratusan ekor sapi ternak yang dimiliki oleh masyarakat, melalui pembinaan dari koperasi,” ujarnya.
Ia menyebutkan, sangat menarik sekali perihal kebijakan koperasi secara pengawasan dan kelembagaan serta memberi support, bahwa koperasi mampu membangun ekonomi masyarakat yang berada di sekitarnya.
“Rakyat juga perlu dicerdaskan untuk bekerja sama, mau dipimpin oleh koperasi dalam rangka mengangkat ekonomi,” ucapnya.
Seperti di KSU Gapoktan Albasiko II, yang berkantor di Jalan Raya Canduh Kinali, Kecamatan Kinali, Pasaman Barat. Koperasi yang sudah berbadan hukum sejak 2013 ini, memulai operasional dengan modal Rp3 juta dan lahir dari kelompok petani.
“Kami memberi pinjaman pada anggota berdasarkan kebutuhan pinjaman anggota bukan keinginan. Untuk itu, kami survei lapangan terlebih dahulu,” ungkap Ketua KSU Gapoktan Albasiko II, Karno.
Modal yang kecil, kemudian berkembang besar hingga koperasi ini bisa melakukan ivonasi kegiatan koperasi, seperti membentuk produk tabungan yang terdiri dari tabungan masyarakat, tabungan pendidikan, tabungan haji, dan tabungan Hari Raya Kurban.
Keberhasilan pengembangan modal koperasi juga dibuktikan melalui laporan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT), yang di dalamnya bisa dilihat perkembangan aset serta peningkatan yang terjadi.
Koperasi yang pada 2013 sempat diundang ke Istana ini. kemudian juga melirik peluang usaha di bidang peternakan dan pertanian organik. Evaluasi perkembangan usaha ketat dilakukan, satu kali dalam tiga bulan.
“Per 31 Desember 2017, modal kami jadi Rp22,9 miliar. Dampak kami berkoperasi bisa dirasakan. Semua unit kami memang masih ada kendala, terutama di sektor riil,” kata Karno.
Namun, dirinya mewakili KSU Gapoktan Albasiko II, menyatakan optimis dengan perkembangan koperasi yang sudah beromset hingga Rp6 miliar tiap bulan ini.
Dijelaskan, untuk memenuhi permintaan sapi saja, koperasi ini sudah kewalahan. “Kota Padang meminta ke sini, tapi kami belum sanggup,” sebutnya.
Koperasi yang telah mampu memberikan imbal jasa pada karyawannya setara dengan Upah Minimum Provinsi dan punya pretasi ini memiliki beberapa harapan kepada dinas terkait, seperti fasilitasi pembuatan pakan dan pemberian subsidi untuk KUR.
Lihat juga...