Kemenpar: TMII Siap Tampung Wisatawan Muslim

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

JAKARTA — Deputi Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Dadang Rizki Ratman mengatakan, untuk mengembangkan wisata halal harus mengacu pada Global Muslim Travel Index (GMTI).

Deputi Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Dadang Rizki Ratman pada FGD bertajuk “Penyusun Desain, Strategi dan Rencana Aksi Wisata Halal Wilayah DKI Jakarta, di Jakarta, Selasa (23/10/2018). Foto : Sri Sugiarti.

GMTI merupakan indeks komprehensif mengukur kualitas dan kuantitas wisata halal di berbagai negara. 2018 ini, menempatkan Indonesia berada di posisi kedua setelah Malaysia dalam pengembangannya.

“GMTI ini patokan kita mengembangkan wisata halal. Indonesia menargetkan peringkat pertama mengalahkan Malaysia,” kata Dadang pada Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Penyusun Desain, Strategi dan Rencana Aksi Wisata Halal Wilayah DKI Jakarta”, Selasa (23/10/2018).

Jakarta pun, jelas dia, dipilih sebagai lokomotif wisata nasional selain Bali dan Kepulauan Riau (Kepri). Kunjugan wisatawan ke tiga provinsi tersebut hampir 90 persen. Dengan rincian, Bali 40 persen, Jakarta kisaran 25 persen, dan Kepri 20 persen.

“Ini wisata umum, tapi kalau mau menjadikan Jakarta lokomotif wisata halal tentu harus ada pelayanan ramah muslim sesuai standar. Contoh restoran bersertifikasi halal, dan sarana ibadah yang nyaman,” ujarnya.

Untuk menjadikan Jakarta pusat wisata halal, tentu kata dia, GMTI menjadi ukuran utama. Dengan memastikan wisatawan Muslim yang berkunjung ke Ibukota DKI Jakarta mudah untuk beribadah. Misalkan di bandara dan hotel mudah mencari tempat ibadah. Begitu juga dengan sajian menu makanan tentu harus terjamin kehalalannya.

Area di DKI Jakarta yang akan dikunjungi harus memberikan pelayanan yang ramah muslim. Selain itu, harus mampu menampilkan atraksi unggulan DKI Jakarta yang menarik bagi wisatawan muslim tersebut.

“Yakinkan memperoleh yang mereka mau. TMII siap menampung wisatawan muslim mengingat di sana ada masjid Diponegoro, Masjid Agung At Tin, dan wisata sejarah. Tapi tentu standar pariwisatannya harus tetap dijalankan dan diukur secara GMTI,” tandasnya.

Dia berharap dengan menjadikan Jakarta sebagai lokomotif wisata halal, maka kunjungan wisatawan muslim ke Indonesia akan meningkat.

Dalam menyambut olimpiade 2020, Jepang mempersiapkan semua restorannya bersertifikasi halal.

“Jumlah restoran di Jakarta, datanya ada 4 ribu, yang halal baru 2 persen. Mudah-mudahan ada kesadaran,” tukasnya.

Kemenpar, menurutnya, mencoba menginisiasi menyusun desain strategi rencana aksi wisata halal di Jakarta dengan menggerakkan tim percepatan halal.

“Isinya sederhana, intinya siapa melakukan apa? Gubernur dan jajaran serta Kemenpar lakukan regulasi. Regulasi ada intensif fiskal dan non fiskal dalam pengembangan wisata halal ini,” tegasnya.

Lihat juga...